Rektor ITPLN: Penetrasi Energi Terbarukan di Atas 20 Persen Berisiko Ganggu Sistem Listrik
Rektor ITPLN sebut pemakaian energi terbarukan harus disesuaikan dengan kapasitas SDM.
Konstruksi Media – Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Iwa Garniwa, memperingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam mempercepat penggunaan energi terbarukan.
Menurutnya, jika energi terbarukan dimasukkan terlalu cepat tanpa kesiapan teknologi dan sumber daya manusia (SDM) yang memadai, sistem kelistrikan nasional bisa menjadi tidak stabil.
Baca Juga:
ITPLN ‘Sulap’ Pengelolaan Air Bersih Warga Pamulang Jadi Digital, Seperti apa Inovasinya?
Peringatan ini disampaikan Prof. Iwa dalam seminar Indonesia–Spain Renewable Energy di kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Kamis (11/12/2025).
“Jika penetrasi energi terbarukan menembus lebih dari 20 sampai 50 persen, sistem bisa menjadi tidak stabil. Rentang penetrasi 15–20 persen saja sudah mulai memunculkan tantangan pada keandalan jaringan listrik,” ujar Prof. Iwa.

Tantangan Stabilitas Listrik Jawa-Sumatra
Prof. Iwa menjelaskan, saat ini bauran energi Indonesia masih sangat bergantung pada batu bara (sekitar 60%). Ketika EBT mulai masuk dalam porsi besar, khususnya di jaringan listrik Jawa dan Sumatra, akan muncul masalah intermittency (ketidakstabilan pasokan karena faktor cuaca, seperti matahari dan angin) yang dapat mengganggu keseimbangan beban.
“Kita harus sangat berhati-hati untuk menjaga rotasi dan stabilisasi sistem,” katanya, menekankan pentingnya menjaga kestabilan sistem listrik agar tidak terjadi gangguan atau pemadaman.
Baca Juga:
DKI Jakarta Gandeng ITPLN Percepat Pengembangan Energi Baru Terbarukan
Ancaman Krisis SDM Transisi Energi
Selain masalah teknologi, Prof. Iwa juga menyoroti tantangan besar dalam hal kesiapan sumber daya manusia (SDM) untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.
Menurut perhitungan ITPLN, jika Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dijalankan, Indonesia membutuhkan sekitar 980 ribu tenaga kerja baru dalam satu dekade di sektor transisi energi.
Kebutuhan SDM untuk operasi dan pemeliharaan (O&M) pembangkit baru saja diperkirakan mencapai 62 ribu orang per tahun.
“Pertanyaannya, dari mana kita mendapatkan sumber daya manusia sebanyak itu dalam satu dekade?” tanyanya.
Untuk mengatasi kesenjangan ini, Prof. Iwa menegaskan peran penting perguruan tinggi seperti ITPLN, UI, dan lembaga riset seperti BRIN, untuk menyediakan riset berbasis bukti dan memprediksi kebutuhan sistem tenaga listrik di masa depan.




