EnergiENERGIINFONews

PGEO Berpeluang Kantongi Pendanaan Asing Rp10 Triliun, Siap Bangun 4 Proyek Geothermal Strategis

Proyek tersebut meliputi Lumut Balai Unit 3, Lumut Balai Unit 4, Gunung Tiga/Ulubelu Extension I, serta Lahendong Unit 7–8 & Binary

Konstruksi Media – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berpotensi memperoleh pendanaan dari institusi keuangan asing senilai US$613 juta atau sekitar Rp10,19 triliun untuk empat proyek strategis panas bumi. Proyek tersebut meliputi Lumut Balai Unit 3, Lumut Balai Unit 4, Gunung Tiga/Ulubelu Extension I, serta Lahendong Unit 7–8 & Binary.

“Keempat proyek ini berpeluang mendapatkan pendanaan luar negeri melalui skema indicative concessional loan dengan nilai mencapai US$613 juta, yang berpotensi berasal dari lembaga multilateral seperti World Bank, ADB, JBIC, atau JICA,” ujar Direktur Eksplorasi & Pengembangan PGEO, Edwil Suzandi dalam keterangan resminya, Rabu (10/12/2025).

Menurut Edwil, pengajuan pendanaan ini merupakan langkah konkret PGEO dalam mempercepat transisi energi dan memperkuat kontribusi perseroan terhadap ketahanan energi nasional. Dengan total investasi lebih dari US$1,09 miliar atau sekitar Rp18,13 triliun, keempat proyek tersebut akan menambah kapasitas listrik rendah emisi hingga 215 MW, yang ditargetkan beroperasi bertahap pada periode 2029–2032.

Dua proyek di Sumatera Selatan, yakni Lumut Balai Unit 3 (belanja modal US$305 juta) dan Lumut Balai Unit 4 (US$290 juta), akan memperkuat klaster pengembangan geothermal PGEO di wilayah tersebut. Sementara itu, Gunung Tiga/Ulubelu Extension I (US$227 juta) akan meningkatkan pasokan energi bersih di Lampung dengan teknologi two-phase binary yang lebih efisien.

Di Sulawesi Utara, proyek Lahendong Unit 7–8 & Binary (US$274 juta) memperluas pengembangan panas bumi di salah satu kawasan dengan potensi geothermal terbesar di Indonesia.

“Proyek-proyek ini mempertegas komitmen perusahaan dalam mengembangkan potensi panas bumi 3 GW,” tegas Edwil.

Baca juga: BREN vs PGEO: Adu Strategi Ekspansi Panas Bumi di Era Ambisi EBT Pemerintahan Prabowo

Ia menambahkan, selain memperkuat bauran energi terbarukan nasional, seluruh proyek geothermal PGEO turut menciptakan multiplier effect bagi masyarakat sekitar, mulai dari terbukanya lapangan kerja baru hingga peningkatan aktivitas ekonomi lokal. PGEO berkomitmen menjaga penyediaan listrik bersih yang stabil, andal, dan berkelanjutan untuk mendukung target Net Zero Emission 2060.

Salah satu skema yang berpotensi digunakan adalah Subsidiary Loan Agreement (SLA), yaitu mekanisme pinjaman terusan dari lembaga multilateral kepada Pemerintah Indonesia untuk kemudian disalurkan kepada perusahaan. Skema ini menawarkan pembiayaan berbiaya rendah dan berjangka panjang sehingga meningkatkan kelayakan ekonomi proyek. Dengan SLA, internal rate of return (IRR) proyek dapat meningkat sekitar 1–3%.

Ke depan, PGEO akan memasuki proses negosiasi dengan lembaga multilateral untuk mendapatkan struktur pendanaan yang paling optimal, termasuk tingkat bunga, tenor, serta persyaratan lingkungan dan teknis yang harus dipenuhi.

Edwil menegaskan bahwa PGEO juga tengah melengkapi readiness criteria sebagai syarat untuk masuk ke Green Book, tahap lanjutan setelah penetapan empat proyek dalam Blue Book. Proses ini dijalankan bersama PT Pertamina, Kementerian PPN/Bappenas, dan Kementerian Keuangan untuk memastikan kesiapan menyeluruh dari aspek teknis, sosial, finansial, hingga lingkungan.

“Dengan penetapan empat proyek dalam Blue Book dan langkah menuju Green Book, PGEO menegaskan komitmennya menjadikan Indonesia sebagai pusat kekuatan energi hijau dunia. Melalui inovasi teknologi dan pemanfaatan sumber daya panas bumi yang berkelanjutan, PGEO akan terus menghadirkan energi bersih yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat serta memperkuat perekonomian nasional,” tutupnya. (***)

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

👑 Berlangganan Artikel Premium 📰 Iklan Display Produk (Majalah dan Website) 📣 Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan