Konstruksi Media – Pemerintah menargetkan lonjakan kapasitas energi baru terbarukan (EBT) untuk mendukung ketahanan energi nasional. Celah inilah yang menjadi ajang persaingan dua emiten besar di sektor panas bumi, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO), yang masing-masing mencanangkan ekspansi agresif beberapa tahun ke depan.
BREN menargetkan kapasitas pembangkit panas bumi mencapai 1,9 gigawatt (GW) pada 2032, sementara PGEO membidik 1,8 GW kapasitas geothermal yang dikelola secara mandiri pada 2033. Beragam strategi dan investasi disiapkan untuk mengamankan porsi pasar energi hijau tersebut.
Manuver BREN: Capex Naik, Kapasitas Digenjot
Untuk mendukung pertumbuhan, BREN mengalokasikan capital expenditure (capex) US$250 juta pada 2026, atau sekitar Rp4,17 triliun (kurs Rp16.677/US$). Jumlah ini melonjak dari capex 2025 yang hanya US$100 juta.
Presiden Direktur BREN, Hendra Soetjipto, menyampaikan bahwa perseroan menargetkan kapasitas panas bumi mencapai 1 GW pada 2026. “Kemudian akan didorong oleh proyek-proyek geothermal dalam jangka panjang dengan potensi tambahan 900 MW hingga menjadi 1.900 MW pada 2030,” ujarnya.
Dalam skenario terbaik, tambahan kapasitas 525 MW memungkinkan BREN mencatat 2.430 MW pada 2032.
Saat ini, BREN mengelola kapasitas 910 MW dari pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan 79 MW dari pembangkit angin (PLTB). Kapasitas angin ditargetkan meningkat menjadi 398 MW pada 2032, melalui tambahan 220 MW pada 2028 dan 99 MW pada 2029–2032.
Empat proyek tengah digarap:
- Wayang Windu Unit 3 – 30 MW (target operasi kuartal IV/2026)
- Salak Unit 7 – 40 MW (target operasi kuartal IV/2026)
- Retrofit Wayang Windu Unit 1 & 2 – tambahan 18,4 MW (kuartal IV/2025)
- Retrofit Darajat Unit 3 – tambahan 7 MW (2026)
Direktur BREN Chiam Hsing Chee menegaskan kenaikan capex sejalan dengan peningkatan aktivitas proyek. Ia optimistis kinerja keuangan BREN 2026 akan mencerminkan pertumbuhan kapasitas tersebut.
Baca juga: Pertamina Geothermal Energy Paparkan Outlook Kinerja 2025–2026, Target Pendapatan hingga US$450 Juta
PGEO: Swasembada Energi dan Pembangunan Bertahap
Di sisi lain, PGEO terus mengejar target 1 GW kapasitas terpasang mandiri dalam 2–3 tahun ke depan. Direktur Utama PGEO, Julfi Hadi, menegaskan target tersebut sebagai batu loncatan menuju pemanfaatan geothermal yang makin luas.
Tambahan tenaga baru datang dari PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW yang beroperasi pada pertengahan 2025. Dengan itu, kapasitas terpasang yang dikelola PGEO kini mencapai 727 MW dari enam wilayah operasi.
Sejumlah proyek prioritas PGEO:
- Hululais Unit 1 & 2 – 110 MW
- Co-generation projects – total 230 MW
- Eksplorasi WKP Gunung Tiga, yang diresmikan Presiden Prabowo pada Juni lalu
“Kami terus menatap ke depan untuk mewujudkan target 1,8 GW pada 2033, serta mengembangkan potensi hingga 3 GW,” ujar Julfi.
Dari sisi finansial, PLTP Lumut Balai Unit 2 mendongkrak pendapatan PGEO 4,19% YoY menjadi US$318,86 juta pada kuartal III/2025, melampaui target US$314,30 juta.
Direktur Keuangan PGEO Yurizki Rio memproyeksikan stabilisasi dan pertumbuhan pada 2026, dengan:
- Produksi: 5.103 GWh (+2,5%)
- Potensi pendapatan: US$450 juta (operasi mandiri + JOC)
- EBITDA margin: 78%–80%
- Net profit margin: 33%–35%
Kompetisi ekspansi BREN dan PGEO menjadi motor penting bagi pencapaian ambisi EBT nasional di era Pemerintahan Prabowo. Keberhasilan keduanya bukan hanya menguatkan bisnis panas bumi domestik, tetapi juga menentukan percepatan transisi energi Indonesia menuju masa depan energi bersih yang berkelanjutan. (***)



