
Mitigasi Bencana Jadi Kunci Lindungi Cagar Budaya Berkelanjutan
Upaya mitigasi bencana dinilai menjadi langkah krusial dalam melindungi cagar budaya.
Konstruksi Media – Upaya mitigasi bencana dinilai menjadi langkah krusial dalam melindungi cagar budaya secara berkelanjutan, menyusul sejumlah insiden yang merusak warisan sejarah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Kebakaran hebat yang melanda Gedung A Museum Nasional pada 16 September 2023 menjadi salah satu contoh nyata. Peristiwa itu berdampak pada 902 koleksi dari berbagai galeri, termasuk keramik, peradaban, perunggu, prasejarah, hingga terakota.
Salah satu yang mengalami kerusakan berat adalah nekara perunggu dari kebudayaan Dongson yang berusia lebih dari 2.000 tahun.
Baca Juga:
PS Construction Kenalkan Teknologi Zinc Cartridge di IPA Seminar untuk Cegah Korosi Jembatan
Perlu Pendekatan Lebih Komprehensif
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Ahmad Mahendra, menilai pendekatan pelindungan cagar budaya perlu diperluas, tidak hanya berfokus pada aspek fisik.
“Selama ini, pendekatan terhadap cagar budaya cenderung berfokus pada pelestarian fisik. Kita membutuhkan kerangka yang lebih komprehensif, termasuk dalam aspek mitigasi dan kesiapsiagaan,” kata Mahendra dalam acara Seminar dan Pameran bertajuk “Cagar Budaya Tangguh Bencana yang Berkelanjutan” di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Selasa (14/4).
Menurutnya, penguatan konsep Cagar Budaya Tangguh Bencana menjadi strategi penting agar pelindungan tidak lagi bersifat reaktif.
“Kegiatan seminar ini diharapkan dapat mempertemukan perspektif kebijakan dalam satu ruang dialog yang produktif,” ujarnya.
Senada, Direktur Bina SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Syukur Asih Suprojo, menekankan pentingnya kesiapsiagaan kelembagaan.
“Upaya pelestarian tidak cukup hanya pada aspek pemeliharaan… pendekatan berbasis Cagar Budaya Tangguh Bencana menjadi penting,” kata Syukur.
Ia menambahkan, penguatan kapasitas menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kebudayaan yang tangguh.
“Cagar budaya tidak berdiri sendiri… penguatan kapasitas menjadi aspek krusial agar upaya mitigasi dapat berjalan efektif,” jelasnya.
Baca Juga:
Nippon Steel Perkenalkan Teknologi Soldier Pile di IPA Seminar, Lebih Hemat Material
Ancaman Nyata di Wilayah Rawan Bencana
Menurut Syukur, ancaman bencana terhadap cagar budaya tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik, tetapi juga hilangnya nilai sejarah.
“Oleh karena itu… upaya mitigasi menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko sekaligus memastikan pelindungan jangka panjang yang berkelanjutan,” kata Syukur.
Sementara itu, Ketua Yayasan PBN Hasanuddin mengingatkan tingginya kerawanan bencana di Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire.
“Indonesia berada di wilayah Ring of Fire dengan 127 gunung aktif… Indonesia sangat rawan bencana geologi seperti gempa, erupsi vulkanik, dan tsunami,” kata Hasanuddin.
Ia menyebutkan, saat ini terdapat 4.924 cagar budaya di Indonesia, dengan 313 di antaranya berstatus tingkat nasional, serta 454 museum yang tersebar di berbagai daerah.




