INFOKorporasiNews

WIKA Ungkap Dampak Finansial Proyek Kereta Cepat Whoosh, Catat Kerugian Triliunan Rupiah

WIKA menghadapi sengketa konstruksi dengan KCIC yang tengah ditangani Danantara.

Konstruksi Media — PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) membahas secara terbuka dampak keuangan yang dialami setelah menjadi bagian dari proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh. WIKA tergabung sebagai pemegang saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan porsi 33,36 persen saham. Konsorsium proyek KCIC juga melibatkan PT Kereta Api Indonesia (58,53 persen), PT Perkebunan Nusantara I (1,03 persen), dan PT Jasa Marga Tbk (7,08 persen), serta pemegang saham dari China, termasuk CREC, Sinohydro, CRRC, CRSC, dan CRIC.

Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, mengungkapkan bahwa perusahaannya mengucurkan penyertaan modal senilai Rp6,1 triliun untuk PSBI. “Kalau memang rugi, porsi Rp6,1 triliun atau sekitar 32 persen dari total pemegang saham, otomatis setiap akhir tahun atau triwulanan akan dibukukan sebagai kerugian,” ujar Agung dalam Public Expose secara virtual.

Agung menambahkan bahwa WIKA menjadi satu-satunya kontraktor Indonesia yang ikut pembangunan Whoosh melalui konsorsium High Speed Railway Contractor Consortium (HSRCC), dengan tanggung jawab 25 persen konstruksi proyek.

Selain itu, WIKA menghadapi sengketa konstruksi dengan KCIC yang tengah ditangani Danantara. Penyelesaian sengketa ini dinilai memiliki dampak signifikan terhadap keuangan perusahaan. “Restrukturisasi cepat KCIC akan berdampak positif bagi keuangan WIKA,” jelas Agung.

Baca juga: Waduh! WIKA Belum Terima Pembayaran Proyek Kereta Cepat Whoosh, Nilai Total Senilai Rp5 Triliun

Akibat keterlibatan dalam proyek kereta cepat, WIKA membukukan kerugian bersih Rp3,21 triliun per September 2025, jauh berbeda dari laba bersih Rp741,43 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan bersih juga turun menjadi Rp9,09 triliun dari Rp12,54 triliun pada kuartal III 2024.

Agung juga menyinggung saldo Piutang Dalam Penyelesaian Konstruksi (PDPK) sebesar Rp5,01 triliun atas proyek High Speed Railway Jakarta–Bandung. Klaim piutang ini merupakan bagian dari cost overrun atau biaya proyek yang melebihi anggaran awal. “Klaim WIKA lebih dari Rp5 triliun sedang berproses dengan KCIC melalui arbitrase di Singapura,” ujarnya.

Dengan kondisi ini, WIKA menegaskan bahwa eksposurnya di proyek Whoosh cukup besar, baik sebagai investor maupun kontraktor, sehingga berdampak signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. (***)

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp
Banner Kiri
Banner Kanan