Energi HijauNews

SCG Soroti Pentingnya Kolaborasi Industri Hadapi Tekanan Transisi Hijau Global

Country Director SCG Indonesia, Warit Jintanawan, menyebut dekarbonisasi sebagai tanggung jawab kolektif.

Konstruksi Media – Industri nasional memasuki masa penentuan dalam upaya mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060. Tekanan global, termasuk penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), mendorong pelaku usaha mempercepat transisi energi agar tetap kompetitif di pasar internasional.

CBAM menandai perubahan lanskap perdagangan global yang makin sensitif terhadap jejak karbon. Skema ini membuat dekarbonisasi bukan lagi pilihan, melainkan prasyarat untuk bertahan dalam rantai pasok dunia.

Baca Juga:

SCG dan Hokkaido Poracon Sepakat Kembangkan Beton Berpori, Seperti Apa Fungsinya?

Di dalam negeri, pemerintah telah menetapkan arah kebijakan melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Dokumen tersebut memuat delapan program prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia.

Meski demikian, pelaksanaan agenda tersebut tidak bisa hanya bergantung pada peran negara. Pemerintah menempatkan sektor swasta dan masyarakat sebagai penggerak utama pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Dalam konteks ini, pelaku industri mulai menegaskan pentingnya kerja bersama. SCG Indonesia menilai transisi hijau tidak dapat dijalankan oleh satu pihak saja.

Country Director SCG Indonesia, Warit Jintanawan, menyebut dekarbonisasi sebagai tanggung jawab kolektif. “Dekarbonisasi merupakan misi bersama demi masa depan bangsa. Sebagai pelaku industri, kami menyadari bahwa perjalanan ini tidak dapat kami tempuh sendirian,” ujarnya.

Baca Juga:

Vinilon Borong Dua Rekor MURI Lewat Produksi Pipa Terbesar di Indonesia

Menurut Warit, kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi faktor kunci percepatan transisi hijau.

“Melalui kolaborasi yang solid, kita akan mampu merealisasikan visi Indonesia Emas 2045 melalui pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang senantiasa berpihak pada bumi dan manusia,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan pergeseran cara pandang industri terhadap isu keberlanjutan. Di tengah persaingan global yang kian ketat, kolaborasi dinilai menjadi kunci menjaga daya saing industri nasional.

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

👑 Berlangganan Artikel Premium 📰 Iklan Display Produk (Majalah dan Website) 📣 Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan