
Konstruksi media – Bosch memperkuat pembangunan infrastruktur industri dan mobilitas di Indonesia, seiring dengan strategi perusahaan global yang menempatkan inovasi teknologi sebagai motor utama pertumbuhan. Di tengah tekanan geopolitik dan perlambatan ekonomi global, Bosch justru meningkatkan investasi pada sektor-sektor strategis.
Sepanjang tahun 2025, perusahaan membukukan pendapatan 91,0 miliar euro dengan alokasi investasi sekitar 12 miliar euro untuk penelitian, pengembangan, dan belanja modal fondasi penting dalam membangun infrastruktur teknologi masa depan.
Memasuki tahun 2026, Bosch menargetkan pertumbuhan penjualan 2–5 persen dengan margin EBIT 4–6 persen. Chairman Bosch, Stefan Hartung, menegaskan bahwa otomasi, elektrifikasi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan menjadi pilar utama ekspansi industri global. “Inovasi dan efisiensi menjadi kunci untuk menjaga daya saing sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru,” ujarnya.
Di Indonesia, Bosch aktif memperluas kontribusinya dalam mendukung transformasi industri berbasis teknologi. Berbagai solusi seperti Electronic Control Units (ECU) dan Battery Management Systems (BMS) dihadirkan untuk mempercepat transisi menuju sistem mobilitas yang terhubung dan terelektrifikasi. Langkah ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia dalam memperkuat infrastruktur industri modern, khususnya di sektor otomotif, manufaktur, dan energi.

Managing Director Bosch Indonesia, Pirmin Riegger, menyebutkan bahwa pasar domestik menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. “Kami mencatat pertumbuhan dua digit di sejumlah lini bisnis. Fokus kami adalah memperluas jaringan, memperkuat kapabilitas lokal, dan menghadirkan teknologi yang relevan bagi kebutuhan industri nasional,” katanya.
Bosch juga mempercepat penguatan infrastruktur layanan di Indonesia. Hingga tahun 2025, perusahaan telah mengoperasikan 20 jaringan Bosch Car Service serta menghadirkan 32 titik penjualan dan servis baterai otomotif di berbagai daerah. Ekspansi ini memperkuat ekosistem mobilitas nasional sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan teknologi otomotif yang andal.
Tak hanya itu, Bosch juga menghadirkan delapan Home Experience Center dan Power Tools Blue Store yang menyasar sektor konstruksi dan industri profesional menjadi bagian dari penguatan infrastruktur ritel dan teknologi di tingkat pengguna akhir. Bosch menempatkan teknologi sensor dan kecerdasan buatan (AI) sebagai fondasi infrastruktur industri masa depan. Teknologi ini mendukung otomotif, robotika, hingga kendaraan otonom.
Pasar sensor global diproyeksikan menembus 440 miliar dolar AS pada tahun 2031, menjadikannya salah satu sektor paling strategis dalam pembangunan infrastruktur berbasis teknologi. Selain itu, pengembangan mobilitas berbasis perangkat lunak (software-definisi mobilitas) membuka peluang integrasi antara kendaraan, sistem transportasi, dan infrastruktur digital secara menyeluruh.
Kinerja positif juga terlihat pada sektor Energi dan Teknologi Bangunan yang tumbuh 13 persen pada tahun 2025. Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan terhadap infrastruktur bangunan cerdas, efisiensi energi, dan sistem manajemen gedung terintegrasi. Tren ini sejalan dengan pesatnya pembangunan kawasan perkotaan dan proyek konstruksi di Indonesia.
Bosch optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan melalui penguatan investasi di sektor strategis seperti elektrifikasi, semikonduktor, dan sistem kontrol canggih. Chief Financial Officer Bosch, Markus Forschner, menegaskan bahwa daya saing menjadi fondasi utama. “Dengan memperkuat efisiensi dan kapasitas investasi, kami menginginkan pertumbuhan sekaligus kesiapan menghadapi tantangan global,” ujarnya.
Selain ekspansi bisnis, Bosch juga memperkuat kontribusi sosial melalui program “Bosch Bersama Negeri” yang fokus pada pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan dukungan nutrisi masyarakat. Inisiatif ini menegaskan bahwa infrastruktur pembangunan tidak hanya mencakup teknologi dan fisik, tetapi juga memperkuat sumber daya manusia sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Baca Selengkapnya:




