EnergiListrikNews

Peneliti ITPLN Beberkan Solusi atas Gap Pembangkit EBT–Transmisi

Peneliti ITPLN soroti adanya gap besar antara percepatan pembangunan pembangkit ETB dan kesiapan jaringan transmisi nasional.

Konstruksi Media – Peneliti Pusat Kajian Advance Energy and Power System Solution Center (AEPS2 Center) Institut Teknologi PLN (ITPLN), Ibnu Hajar, menyoroti adanya “gap besar” antara percepatan pembangunan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) dan kesiapan jaringan transmisi nasional. Kondisi ini dinilai dapat menghambat optimalisasi pemanfaatan potensi EBT di Indonesia.

Ibnu Hajar menyebut, meskipun pengembangan PLTS dan PLTB telah meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, kapasitas jaringan listrik belum diperluas secara strategis.

“Ada gap besar antara pertumbuhan pembangkit EBT dan kesiapan jaringan transmisi. Akibatnya, sebagian potensi energi terbarukan tidak bisa disalurkan optimal, bahkan terbuang,” ujar Ibnu di Jakarta, Rabu (3/12).

Baca Juga:

Guru Besar Pertama ITPLN Resmi Dikukuhkan: Apa Pesan Utama dalam Orasinya?

Tantangan Geografis dan Fluktuasi Daya

Ibnu menjelaskan, ketimpangan ini diperparah oleh dua masalah utama:

  1. Ketimpangan Geografis: Sebagian besar sumber EBT berada di wilayah berpenduduk rendah (Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Indonesia timur), sementara permintaan listrik terpusat di Jawa dan kota metropolitan. Saluran transmisi belum memadai untuk menghubungkan kedua kawasan ini.
  2. Fluktuasi Daya: Jaringan nasional masih mengandalkan desain untuk pembangkit konvensional yang stabil. Masuknya sumber seperti surya dan angin yang bersifat fluktuatif menuntut fleksibilitas tinggi. “Tanpa adaptasi teknologi, fluktuasi daya PLTS dan PLTB dapat mengganggu stabilitas sistem,” tambah Ibnu.

Kondisi tersebut menyebabkan bottleneck (kemacetan) dan curtailment (pengurangan energi) ketika produksi EBT tinggi, yang pada akhirnya mengurangi efisiensi nasional dan menimbulkan keraguan di kalangan investor proyek EBT skala besar.

“Kesenjangan kapasitas semakin melebar. Jika tidak segera diatasi, kita akan menghadapi tantangan logistik energi yang serius,” ucap Ibnu.

Baca Juga:

ITPLN Terapkan Teknologi MBBR untuk Perkuat Kampus Ramah Lingkungan

Peneliti ITPLN
Peneliti ITPLN sebut adanya “gap besar” antara percepatan pembangunan pembangkit EBT. Dok.ist

Rekomendasi Solusi dari AEPS2 Center

AEPS2 Center ITPLN menawarkan sejumlah rekomendasi solusi sistemik untuk memperkuat sistem tenaga nasional agar mampu mengakomodasi penetrasi EBT skala besar:

  • Penyimpanan Energi: Mengintegrasikan Battery Energy Storage System (BESS) untuk mengatasi intermittency (sifat terputus-putus) PLTS/PLTB, menjaga stabilitas frekuensi, dan menyediakan layanan ancillary.
  • Sistem Tenaga Fleksibel: Pengembangan smart grid, demand response, dan kontrol inverter canggih (grid-forming) untuk meningkatkan keandalan operasi jaringan.
  • Perencanaan Terintegrasi: Melakukan optimasi investasi dan ekspansi jaringan agar mampu mendukung EBT skala besar dengan biaya yang efisien.
  • Teknologi Konversi Daya: Pengembangan converter modern seperti VSC, MMC, dan back-to-back untuk interkoneksi sistem dan integrasi EBT.

Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa jika kesenjangan kapasitas ini tidak segera diatasi, Indonesia berisiko menghadapi tantangan logistik energi yang serius dalam upaya mencapai transisi energi yang berkelanjutan.

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp
Banner Kiri
Banner Kanan