ESGNewsSustainability

Guru Besar Pertama ITPLN Resmi Dikukuhkan: Apa Pesan Utama dalam Orasinya?

Prof. Susy Fatena dikukuhkan sebagai Guru Besar pertama. Rektor ITPLN tegaskan tonggak ini memperkuat peran kampus dalam menyiapkan SDM untuk transisi energi dan NZE 2060.

Konstruksi Media – Institut Teknologi PLN (ITPLN) mencatatkan sejarah kelembagaan dengan resmi mengukuhkan Prof. Dr. Susy Fatena Rostiyanti, ST, M.Sc. sebagai Guru Besar pertama ITPLN di Bidang Manajemen Konstruksi pada Selasa, 11 November 2025.

Pengukuhan ini ditegaskan oleh Rektorat sebagai simbol penguatan peran kampus dalam mempersiapkan SDM untuk agenda transisi energi nasional.

Rektor ITPLN, Prof. Iwa Garniwa, menyebut capaian tersebut sebagai tonggak penting yang menjadi energi baru bagi kampus untuk memperluas riset dan memperdalam inovasi.

“Hari ini ITPLN pecah telor melahirkan guru besar. Kehadiran profesor pertama menjadi energi baru bagi kampus untuk memperluas riset dan memperdalam inovasi,” ujar Prof. Iwa Garniwa.

Baca Juga:

Harbak PU ke-80: Semangat Membangun Negeri 

Menurut Prof. Iwa, ITPLN hadir untuk menjawab dua tantangan besar yang dihadapi Indonesia, yaitu transformasi Industri 4.0 dan percepatan transisi energi menuju net zero emission 2060, dengan mempersiapkan SDM yang kompeten.

Pesan Utama Orasi: Manajer Konstruksi sebagai Integrator Strategis

Prof.Susy
Guru Besar ITPLN pertama menyampaikan orasi ilmiahnya. Dok.ist

Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Perkembangan Manajemen Konstruksi: Keseimbangan Biaya, Waktu, dan Mutu di Era Digital”, Prof. Susy Fatena Rostiyanti menyampaikan pesan utama mengenai transformasi profesi tersebut di era digital.

Selain itu, ia menegaskan bahwa dunia manajemen konstruksi tengah memasuki fase paling dinamis dalam empat dekade terakhir.

“Keseimbangan biaya, waktu, dan mutu tetap menjadi fondasi. Namun kini relasinya jauh lebih kompleks,” kata Prof Susy.

Pesan utamanya adalah perubahan peran manajer konstruksi dari sebatas koordinator teknis menjadi “integrator strategis”.

Manajer kini dituntut mengelola data, desain, pengadaan, dan pelaksanaan secara menyeluruh di tengah membesarnya skala proyek dan meningkatnya kebutuhan terhadap keberlanjutan.

Keahlian yang diperlukan adalah menggabungkan kefasihan digital dengan pemahaman hukum, kepemimpinan, serta pemikiran sistemis, terutama dalam mengelola ketidakpastian tanpa kehilangan keseimbangan biaya, waktu, dan mutu.

“Profesi ini tidak lagi sekadar mengurus bangunan berdiri, tetapi bagaimana ia berfungsi, bertahan, dan memberi dampak jangka panjang,” ucapnya.

Apresiasi LLDIKTI

ITPLN
ITPLN hadir untuk menjawab tantangan industri Indonesia. Dok.ist

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III, Henri Togar Hasiholan Tambunan, yang turut hadir, mengapresiasi pengukuhan tersebut.

Ia menilai gelar profesor mencerminkan ekosistem akademik ITPLN yang sehat dan progresif, serta memperkuat posisi kampus sebagai unggulan di bidang ketenagalistrikan dan teknologi terapan.

“Gelar profesor bukan hanya pengakuan individu, tetapi kebanggaan institusi,” kata Henri.

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp
Banner Kiri
Banner Kanan