HeadlineINFONews

Izin Rumah Baru Disetop KDM, Pengusaha Bahan Bangunan Alihkan Fokus ke Pasar Renovasi

IPBBI klaim penghentian sementara izin mendirikan bangunan baru merupakan langkah strategis yang berorientasi jangka panjang bagi penataan sektor properti di Jawa Barat.

Konstruksi Media – Ikatan Pengusaha Bahan Bangunan Indonesia (IPBBI) menyatakan dukungan terhadap kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menghentikan sementara penerbitan izin pembangunan rumah baru. Asosiasi menilai kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) tersebut justru mendorong arah pertumbuhan industri bahan bangunan yang lebih berkelanjutan.

Ketua IPBBI Gomas Harun mengatakan, penghentian sementara izin mendirikan bangunan baru merupakan langkah strategis yang berorientasi jangka panjang bagi penataan sektor properti di Jawa Barat.

“Baik secara pribadi maupun organisasi, kami memandang kebijakan Gubernur Jawa Barat terkait penghentian sementara izin pembangunan rumah baru sebagai langkah yang cerdas dan visioner,” ujar Gomas melalui Keterangannya, Jumat (19/12/2025).

Gomas menegaskan, kebijakan tersebut tidak serta-merta menghambat industri bahan bangunan. Berdasarkan hasil diskusi dengan sejumlah pelaku usaha di Bandung, hingga kini belum terlihat dampak signifikan terhadap kinerja sektor tersebut.

“Penghentian izin bangun rumah baru tidak berarti mematikan sektor properti maupun industri bahan bangunan. Sampai saat ini, IPBBI menilai dampaknya masih relatif terbatas,” katanya.

Menurut Gomas, industri bahan bangunan tidak hanya bergantung pada pembangunan rumah baru, melainkan juga ditopang oleh pasar renovasi dan perbaikan hunian. Bahkan, secara nilai dan volume, pasar renovasi dinilai lebih besar dan stabil dibandingkan pembangunan rumah baru.

“Penghentian IMB atau PBG baru tidak melarang renovasi rumah yang sudah ada. Justru segmen renovasi merupakan tulang punggung pasar bahan bangunan nasional,” jelasnya.

Ia memaparkan, dalam pembangunan rumah baru, komposisi kebutuhan material umumnya sekitar 70 persen bahan struktur dan 30 persen bahan pendukung atau finishing. Sebaliknya, pada kegiatan renovasi, proporsinya berbalik, yakni 30 persen bahan struktur dan 70 persen bahan finishing.

“Dari sisi nilai transaksi, bahan finishing bahkan bisa bernilai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan bahan struktur. Bagi pelaku usaha, pasar renovasi lebih stabil, berulang, dan menjangkau langsung rumah tangga,” ungkap Gomas.

Dengan kondisi tersebut, IPBBI memprediksi akan terjadi pergeseran fokus usaha, dari penyediaan material utama untuk pembangunan rumah baru menuju produk dan layanan bahan bangunan untuk renovasi dan peningkatan kualitas hunian.

“Selama kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang layak terus ada, industri bahan bangunan akan tetap relevan dan memiliki ruang pertumbuhan yang sehat,” pungkasnya. (***)

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

👑 Berlangganan Artikel Premium 📰 Iklan Display Produk (Majalah dan Website) 📣 Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan