Anggota BNSP Apresiasi Gathering BEA Indonesia 2026, Perkuat Training dan Sertifikasi di Era Digital Engineering
Gus Nur mendorong BEA untuk mengaktifkan kembali lembaga training yang telah dimiliki agar mampu menghasilkan tenaga kerja tersertifikasi berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).
Konstruksi Media — Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) mengapresiasi terselenggaranya seminar dan Gathering Building Engineering Association (BEA) Indonesia 2026 ke-17 yang mengangkat tema “Empowering The Future of Digital Engineering”.
Hal tersebut disampaikan oleh Anggota BNSP Muhammad Nur Hayid saat ditemui Konstruksi Media di kegiatan Gathering BEA Indonesia 2026 di Hotel Harris Kelapa Gading Jakarta, Sabtu, (24/01/2026).
Pasalnya, Seminar dan Gathering BEA Indonesia 2026 ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja konstruksi nasional.
Hangat disapa Gus Nur, ia menekankan pentingnya peran asosiasi dalam menjawab kebutuhan kompetensi SDM di tengah percepatan transformasi digital sektor bangunan dan infrastruktur.
Gus Nur mendorong BEA untuk mengaktifkan kembali lembaga training yang telah dimiliki agar mampu menghasilkan tenaga kerja tersertifikasi berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).
“BEA sebenarnya sudah punya lembaga training. Tinggal dihidupkan kembali, dipromosikan, lalu disinergikan dengan LSP agar setiap pelatihan diakhiri dengan sertifikasi,” kata dia.

Ia optimistis, melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, SMK, dan industri, BEA mampu meningkatkan target sertifikasi secara signifikan.
“Kalau targetnya 1.000 (anggota tersertifikasi) di 2026, saya kira sangat mungkin tercapai 700–800. Tapi kalau targetnya hanya 200, ya yang tercapai paling 50–100,” ujar Gus Nur.
Menurutnya, pendanaan pelatihan juga dapat diperoleh melalui CSR perusahaan, biaya mandiri yang terjangkau, maupun kerja sama lintas sektor.
Lebih lanjut, Gus Nur menekankan pentingnya aktivasi pengurus BEA di daerah sebagai Tempat Uji Kompetensi (TUK) agar jangkauan sertifikasi tidak hanya terpusat di kota besar.
“Coverage BEA ini besar sekali. Tinggal menggerakkan teman-teman di provinsi untuk kerja sama dengan kampus, industri, hotel, dan pengelola gedung agar SDM mereka bersertifikat nasional,” papar dia.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan ahli konstruksi dalam pembangunan fasilitas sosial, termasuk pesantren, agar tidak terjadi kembali kecelakaan bangunan seperti kasus di Sidoarjo.
“Pesantren harus dibangun dengan desain yang baik oleh para ahli. Banyak kampus dan perusahaan konstruksi yang siap membantu desain gratis sebagai bagian dari CSR,” kata Gus Nur yang juga mengelola tiga pesantren tersebut.
Lebih jauh, Gus Nur mendorong BEA untuk keluar dari pola pikir tradisional. Menurut dia BEA sebagai asosiasi non-profit bisa membangun unit-unit produktif seperti lembaga training, sertifikasi, placement tenaga kerja, hingga perusahaan pengelolaan gedung.
Baca Juga :
BEA Indonesia Siapkan Seminar dan Gathering ke-17 Bertema Digital Engineering




