NewsProfil

Profil Andy Totong: Dari Ritel Bahan Bangunan ke Agenda Hijau Mitra10

Andy adalah salah satu figur kunci di balik transformasi PT Catur Mitra Sejati Sentosa (Mitra10)

Konstruksi Media – Di tengah industri ritel bahan bangunan yang kerap identik dengan beton, baja, dan ekspansi gerai, Andy Totong membawa arah yang sedikit berbeda. Sebagai Direktur Utama Mitra10, ia tak hanya berbicara soal pertumbuhan bisnis, tetapi juga tentang bagaimana limbah bisa kembali bernilai.

Andy adalah salah satu figur kunci di balik transformasi PT Catur Mitra Sejati Sentosa (Mitra10), anak usaha PT Catur Sentosa Adiprana Tbk. Di bawah kepemimpinannya, Mitra10 tumbuh sebagai pemain utama ritel bahan bangunan nasional, sekaligus mulai menempatkan isu keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis.

Profil dan Perjalanan Karier Andy Totong

Dilansir dari laman resmi PT Catur Sentosa Adiprana, Andy lahir pada 1979 dan berdomisili di Jakarta. Ia menempuh pendidikan tinggi di University of California, Berkeley, Amerika Serikat.

Andy meraih gelar Sarjana Teknik Industri dan Riset Operasional pada 2002, serta melengkapi pendidikannya dengan Diploma Administrasi Bisnis. Kombinasi teknik dan bisnis inilah yang membentuk pendekatan kepemimpinannya yang pragmatis dan berbasis data.

Baca Juga:

Gencarkan Ekonomi Sirkular, Mitra10 Sediakan Layanan E-Waste Berhadiah Voucher Rp500 Ribu

Perjalanan karier Andy di Mitra10 dimulai pada 2003 sebagai Marketing Manager. Lima tahun berselang, ia dipercaya mengisi posisi Merchandise and Marketing Director. Pada 2009, Andy resmi ditunjuk sebagai Direktur Utama Mitra10, jabatan yang hingga kini masih ia emban.

Di tingkat grup, Andy juga menjabat sebagai Direktur PT Catur Sentosa Adiprana Tbk sejak 2016. Melalui RUPS Tahunan 2022, ia kembali dipercaya melanjutkan peran tersebut hingga 2027. Andy merupakan bagian dari keluarga Totong, yang selama ini dikenal sebagai penggerak utama bisnis perseroan.

Andy Totong
Andy Totong saat ditemui di acara ESG Symposium 2025. Dok.Konstruksi Media

Komitmen Andy dan Mitra10 Terhadap Isu Keberlanjutan

Dalam beberapa tahun terakhir, fokus Andy mulai bergeser ke isu keberlanjutan. Hal itu terlihat dari keterlibatannya dalam ESG Symposium 2025, di mana Mitra10 memaparkan langkah konkret mendorong ekonomi sirkular, khususnya pengelolaan limbah elektronik.

Salah satu inisiatif yang ia soroti adalah kerja sama Mitra10 dengan Rekosistem. Melalui kolaborasi ini, pelanggan tak lagi perlu repot membawa limbah elektronik ke toko. Prosesnya dibuat lebih sederhana, cukup mengisi tautan, lalu barang akan dijemput langsung.

“Dulu customer harus datang dan bawa sendiri barangnya. Sekarang cukup isi link, nanti dijemput,” ujar Andy dalam diskusi di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Desember lalu.

Baca Juga:

Mitra10 dan Atria Grand Opening Gerai ke-53 di Purwokerto

Ia meyakini limbah tidak seharusnya berakhir di tempat pembuangan. Material yang terkumpul, menurutnya, masih bisa dipilah dan dimanfaatkan kembali, baik sebagai bahan baku industri maupun sumber energi alternatif, termasuk untuk sektor semen.

Bagi Andy Totong, keberlanjutan bukan sekadar jargon ESG. Ia melihatnya sebagai tanggung jawab industridan peluang untuk membentuk ekosistem bisnis yang lebih tahan terhadap masa depan. “Bersama-sama, kita bisa membuat limbah hari ini menjadi sumber daya masa depan,” katanya

Andy Totong memiliki hubungan afiliasi dengan Budyanto Totong, pemegang saham pengendali yang juga menjabat sebagai Direktur Utama perseroan. Ia juga terafiliasi dengan Erline Totong dan Yuliana Totong yang menjabat sebagai direktur di anak perusahaan.

Di luar itu, Andy tidak memiliki hubungan afiliasi dengan jajaran direksi lainnya, dewan komisaris, maupun pemegang saham perseroan lainnya.

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

👑 Berlangganan Artikel Premium 📰 Iklan Display Produk (Majalah dan Website) 📣 Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan