Konstruksi Media — Di tengah padatnya jadwal sebagai seorang profesional, dosen, sekaligus sosok yang aktif di berbagai organisasi, Yuwono Imanto memilih satu jalan yang tidak mudah yakni kembali ke bangku kuliah.
Keputusan itu berujung manis. Sebab, ia resmi meraih gelar Magister Hukum Konstruksi dari Universitas Pekalongan (UNIKAL) dengan predikat Cumlaude di usia 66 tahun, dan mendapat gelar wisudawan terbaik dengan nilai IPK 4.00. Tentunya, hal ini merupakan sebuah capaian yang tidak datang dari ruang nyaman.
Memiliki nama dan gelar lengkap yakni, Dr. Ir. Yuwono Imanto, MM, MBA, M.Ars., MH., pada Sabtu, (25/04/2026), UNIKAL melaksanakan wisuda semester genap tahun akademik 2025/2026, dan Yuwono Imanto berdiri mewakili 295 wisudawan untuk menyampaikan kesan dan pesan wisuda kali ini.
Pidato yang ia sampaikan bukan sekadar formalitas, sebab, di balik setiap kalimatnya, tersimpan perjalanan panjang yang penuh disiplin, kelelahan, dan keteguhan yang jarang terlihat.
Sebagai seorang direktur di perusahaan cat asal Indonesia yakni PT Propan Raya, ia tidak memiliki kemewahan waktu seperti mahasiswa pada umumnya.

Pada siang hari, ia habiskan waktu untuk tanggung jawab profesional di dunia kerja, sementara malam hari menjadi ruang sunyi baginya untuk berpikir dan menyelesaikan tugas-tugas perkuliahannya. Bahkan, proses penyusunan tesisnya tidak mengenal tempat tetap.
“Dari kamar hotel, kursi mobil yang melaju, hingga kabin pesawat di antara awan. Saya kerjakan tugas-tugas kuliah termasuk membuat tesis saya,” ungkap Yuwono dihadapan para peserta wisudawan/wisudawati UNIKAL, di Pekalongan, Jawa Tengah, Sabtu, (25/04/2026).

Tesisnya yang berjudul tentang “Efektivitas Pemangku Kepentingan Dalam Implementasi Regulasi Bangunan Gedung Hijau pada Pembangunan Ibu Kota Nusantara Dari Perspektif Hukum” bukan sekadar karya akademik.
“Selama lima bulan, saya bolak-balik ke kawasan proyek Ibu Kota Nusantara, mewawancarai lebih dari 30 pemangku kepentingan di tengah masifnya pembangunan nasional. Di sana saya melihat langsung bagaimana hukum, teknologi, dan kepentingan bertemu, dan kadang berbenturan,” imbuhnya yang juga merupakan Putra Daerah Pekalongan, Jateng.
Tak jarang, waktu menjadi lawan terberat. Bahkan, sesi bimbingan dilakukan hingga larut malam pukul 23.00 (jam 11 malam).
Pada hari tenggat pengumpulan tesis, ia masih berada di luar kota untuk tugas pekerjaan. Namun, satu hal yang tidak pernah ia kompromikan yakni menyelesaikan apa yang telah ia mulai.

“Keberhasilan bukan hanya soal kecerdasan,” tersirat dalam kisahnya, “tetapi tentang ketekunan dan kemampuan bertahan saat keadaan tidak ideal.” Nilai-nilai yang ia pegang dalam dunia profesional, integritas, ketangguhan, dan dorongan untuk terus unggul menjadi bahan bakar utama dalam perjalanan akademiknya.
Lebih dari sekadar gelar, Yuwono melihat Hukum Konstruksi sebagai titik temu berbagai kepentingan. Baginya, disiplin ini bukan pelengkap, melainkan penyeimbang yang menjaga agar proyek tidak hanya selesai, tetapi juga adil, tertib, dan berkelanjutan.

Didukung Sang Istri
Di balik semua itu, ada peran keluarga yang tidak tergantikan. Sang istri, Linda Hartono, menjadi sosok yang memberi ruang dan dukungan di tengah absennya waktu kebersamaan.
Anak, menantu, dan kelima cucunya menjadi pengingat bahwa setiap perjuangan memiliki makna yang lebih besar dari sekadar pencapaian pribadi.
Di akhir pidatonya, Yuwono tidak berbicara tentang dirinya. Ia berbicara tentang harapan agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti di ruang akademik, tetapi hidup di tengah masyarakat.
“Belajar bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar,” paparnya.

Dan dari perjalanan itu, satu hal menjadi jelas yaitu prestasi Cumlaude bukanlah garis finish, melainkan jejak dari perjalanan panjang yang ditempuh dengan diam, konsisten, dan penuh keyakinan.
Baca Juga : Propan Siap Hijaukan ARCH:ID 2026 Lewat Inovasi Coating Ramah Lingkungan




