Menuju Keberlanjutan Pelabuhan Cerdas, Ini Kata Dosen Teknik Kelautan ITB
Ada empat indikator yang harus diperhatikan dalam menjadikan sustainable smart port yaitu udara, perairan, tanah dan masyarakat.
Konstruksi Media – Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Program Studi Teknik Kelautan, Ir. Andojo Wurjanto, dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Persatuan Insinyur Indonesia berkerja sama dengan Kementerian Perhubungan dan PT Hutama Karya (Persero) mengungkapkan bahwa terdapat beberpa faktor untuk menjadikan pelabuhan menuju sustainable smart port.
Dia mengatakan kenapa pelabuhan itu penting karena 90% perdagangan dunia melalui jalur laut.
“Mengenai dengan sustainable (berkelanjutan) itu berkaitan dengan isu lingkungan hidup. Sementara, smart (cerdas) berkaitan dengan pola operasi pelabuhan itu sendiri dilaksanakan,” jelas dia, Kamis, (13/10/2022).
Mengenai maslah lingkungan, Andojo mengatakan ada empat indikator yang harus diperhatikan yaitu udara, perairan, tanah dan masyarakat.
Menurutnya faktor lingkungan dan kehadiran pelabuhan akan berdampak pada polusi udara. Selanjutnya dampak terhadap perairan, apakah itu di sungai, danau, ataupun di laut.
“Dampak terhadap tanah (soil), sebagaimana menurut IMO (International Maritim Organization) hanya dilihat dua sudut pandang laut dan udaranya saja. Akan tetapi ada satu hal yang harus diperhatikan juga yakni dampak terhadap tanah disekitar pelabuhan. Karena sebagian besar operasional pelabuhan sebagain besar ada di darat,” imbuhnya.
Oleh karena itu, limbah yang ada di darat baik padat maupun cair itu jika tidak ditangani dengan baik, maka akan mengotori tanahnya (merusak lingkungan sekitar pelabuhan).
“Jika dilihat dari sudut pandang tersebut, saya melihat interaksi pelabuhan dengan lingkungannya itu adalah udara, air, tanah dan kebisingan. Lalu, yang dimaksud dengan sustainable development adalah keyword nya bahwa kita tidak boleh serakah menggunakan sumber daya yang ada, melainkan harus mewariskan sumber daya yang berkualitas untuk anak-cucu atau generasi selanjutnya,” terang Andojo.

“Kalau hubungan antara pelabuhan dengan lingkungan itu dilihat rumit, maka akan menjadi rumit. Akan tetapi jika dilihat dari sudut pandang sederhana seperti udara, perairan, tanah dan kebisingan jika ingin sustainable sangat mudah (simple) yakni jangan dicemari atau pencemarannya dikelola dengan baik agar dampaknya dapat diminimalisirkan,” sambung Andojo.
Konsep Pelabuhan Cerdas
Kembali dia mengatakan yang disebut sebagai pelabuhan cerdas (smart port) adalah digital. To get smart ports go digital, dan smart port is a digital.
Dijelaskan olehnya fungsi pelabuhan salah satunya yakni sebagai tempat berlabuhnya kapal baik kapal kargo maupun kapal penumpang.
Fungsi lain yakni sebagai peralihan moda transportasi darat ke air dan sebaliknya.
“Memiliki dua fungsi sebagai tempat berlabuhnya kapal dan sebagai peralihan moda transportasi, pelabuhan harus melakukan serangkaian penggunaan teknologi yang termutakhir,” kata dia menerangkan.
Baca Juga : Dukung Konektivitas Indonesia Timur, Brantas Abipraya Bangun Pelabuhan Jayapura
Dia menambahkan, Sedikitnya ada lima (5) komponen jika ingin menjadi smart port di antaranya yakni big data, artificial intelegence (AI), internet of things (IoT), blockchain technology, and 5G connection.
Salah satu contoh digitalisasi operasi pelabuhan yang sudah diterapkan di Indonesia, kata dia yakni dengan mengidentifikasi data angkutan pelabuhan Single Truck Indentification Data (STID) bagi angkutan peti kemas. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi antrian di pintu gerbang masuk pelabuhan.

Diakhir paparan Andojo mengatakan pelabuhan cerdas merupakan perkara teknologi. Kalau ada biaya, ada teknologi, kalau ada teknologi kita bisa menerima pelabuhan cerdas. Tinggal berhitung kelayakan finansial, ekonomi, ketersediaan dana dan prioritas strategisnya
“Pelabuhan berkelanjutan merupakan perkara komitmen atas pengelolaan lingkungan hidup. Kemudian, regulasi lingkungan hidup yang ada sudah cukup untuk menerapkan pelabuhan berkelanjutan jika regulasi ditegakkan sebagaimana seharusnya,” papar dia.
Lalu, tidak ada justifikasi untuk sertifikasi pelabuhan cerdas karena komponen pelabuhan cerdas bisa diterapkan bertahap sesuai kebutuhan kemampuan tanpa menyebabkan ketimpangan operasi.
“Yang terakhir yakni pelabuhan berkelanjutan sangat bisa dijadikan ladang industri sertifikat, meskipun komitmen esensial terhadap lingkungan hidup tidak memerlukan wujud piagam. Definisi berkelanjutan memuat tanggungjawab lingkungan hidup bangsa sendiri saat ini dan kualitas warisan untuk anak bangsa di masa depan,” tutup dia.
Baca Artikel Selanjutnya :