Konstruksi Media – Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Indonesia terus dikebut, akan tetapi masih terdapat beberapa kendala utama yang menghambatnya. Meski demikian, pemerintah tetap optimistis bahwa target 23% EBT di 2025
Menurut Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Indra Darmawan, kendala yang pertama adalah pengukuran. Dia mengatakan untuk mengetahui sampai dimana kemajuan kebijakan Indonesia, diperlukan ukuran. Akan tetapi, ukuran yang dimaksud belum ada.
Kendala kedua adalah motivasi. Menurutnya motivasi untuk beralih ke sektor EBT perlu ditingkatkan. Di beberapa daerah di Indonesia masih tergantung pada energi fosil sehingga adanya transisi ke EBT dapat menghilangkan daya saing masyarakat.
Kendala terakhir adalah literasi. Banyak istilah-istilah baru yang muncul, seperti net zero emission, carbon offset dan lainnya. Masyarakat awam istilah tersebut kurang memahami, untuk itu pemahaman tersebut perlu ditingkatkan agar kepatuhan untuk beralih ke EBT meningkat.
Baca Juga : Potensi Melimpah, Pemerintah Gunakan Hidro Capai Target EBT
Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) periode 2016-2021, Surya Darma mengungkapkan pengembangan ET (Energi Terbarukan) sampai saat ini masih jauh dari harapan. Bahkan seringkali tantangan utama juga datang dari sisi buyer yang monopoli di Indonesia.
“Lihat saja seperti Permen ESDM No.26 Tahun 2021 yang sudah diundangkan sejak Agustus 2021,sampai ini belum berjalan seperti yang diharapkan. Bahkan ada kemungkinan akan ditinjau ulang atas usulan buyer,” ungkapnya saat dihubungi Konstruksi Media, Rabu, (29/6/2022).
Menurutnya, jika hal semacam itu terus berlanjut, dia khawatir target NZE 2060 juga sulit terpenuhi, apalagi target ET 23% pada tahun 2025.
Meski begitu, ia mengaku ikut bahagia dengan kondisi METI saat ini yang telah menjadi organisasi yang cukup besar dan di respect berbagai pihak secara nasional dan International.
Hal ini terlihat dengan betapa antusiasnya anggota METI untuk ikut Munas (Musyawarah Nasional) dan mengajukan sebagai calon ketua yang cukup banyak sebagai alternatif.
“Saya tentu saja berterima kasih pada berbagai pihak termasuk media yang terus menjaga dan mengawasi peran METI dalam mendorong pengembangan,” jelas pengajar di Pasca Sarjana Universitas Indonesia tersebut.
Baca Artikel Selanjutnya :