Konstruksi Media — Di antara riuh dinamika Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Pengelasan Indonesia–Indonesian Welding Society (API-IWS), hadir sosok yang membawa denyut dunia industri sekaligus pendidikan vokasi dari Batam.
Ir. Ronny Andalas, peserta Munas asal Kepulauan Riau, tidak hanya datang sebagai praktisi, tetapi juga sebagai dosen industri di Politeknik Negeri Batam, yang setiap hari bersentuhan langsung dengan kebutuhan riil dunia kerja dan pengembangan SDM pengelasan.
Bagi Ronny, Munas API-IWS bukan sekadar agenda rutin pergantian kepengurusan. Forum ini menjadi ruang strategis untuk menentukan masa depan profesi pengelasan nasional di tengah percepatan industrialisasi, khususnya di kawasan industri seperti Batam.
“Kami di Batam melihat langsung bagaimana kebutuhan tenaga welder tersertifikasi itu sangat besar. Munas ini menjadi penentu arah kebijakan organisasi untuk menjawab kebutuhan industri tersebut,” ujarnya.

Sebagai dosen industri, Ronny berada di titik temu antara dunia kampus dan dunia kerja. Ia mendidik mahasiswa dengan pendekatan praktik industri, sekaligus menyaksikan tuntutan sertifikasi, standar keselamatan, dan kompetensi yang terus meningkat.
Ia juga mengatakan bahwa dalam industri pengelasan tidak hanya welder, melainkan juga ada inspector & quality control (QC), welding engineer, supervisor, HSE (health, safety and enviroment), NDT Technician (Non-Destructive Testing) alias spesialis pengujian tanpa merusak hasil las.
Karena itu, ia menaruh harapan besar agar API-IWS semakin aktif memperkuat peran dalam peningkatan kualitas SDM pengelasan.
“Yang kita butuhkan bukan hanya jumlah welder, tetapi kualitasnya juga harus diakui industri, bahkan hingga level internasional,” imbuhnya.
Ronny menilai, keputusan-keputusan penting yang dihasilkan dalam Munas akan berdampak langsung ke daerah, termasuk pada kurikulum vokasi, standar sertifikasi, hingga pola kemitraan dengan industri. Menurutnya, sinergi antara asosiasi profesi, lembaga pendidikan, dan dunia usaha harus semakin diperkuat.
“Kalau asosiasi kuat, kampus kuat, industri juga akan diuntungkan. Rantai ini harus saling terhubung,” tutur Ronny.
Di tengah geliat pembangunan nasional, mulai dari sektor pertambangan, manufaktur, hingga konstruksi berat, peran welder semakin tak tergantikan. Dari Batam, Ronny membawa suara bahwa masa depan pengelasan Indonesia bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal keberpihakan pada peningkatan kompetensi generasi muda.
“Kami ingin hasil Munas ini benar-benar dirasakan di lapangan, di bengkel, di galangan kapal, di pabrik, dan juga di ruang kelas tempat calon welder Indonesia ditempa,” pungkasnya.
Baca Juga :
Salut!, Siwa SMK di Sukabumi Jurai Kompetisi Las API-IWS 2025




