PerumahanPROPERTY

Enam Strategi Pembiayaan Perumahan dalam Bayangan Perlambatan Ekonomi

Ketika ekonomi melambat, suku bunga akan lebih rendah sehingga menarik penerbitan KPR (Kredit Pembiayaan Rumah) bagi calon pembeli rumah.

Konstruksi Media – Pemerintah bersama dengan pengembang perumahan terus berupaya mengatasi kekurangan perumahan alias Backlog untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) melalui Program Sejuta Rumah (PSR) serta mengimplementasikan skema pembiayaan penyediaan perumahan yang inovatif.

Rencana mengatasi kekurangan perumahan tersebut yakni tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) yang terkait bidang perumahan untuk mengukur jumlah kebutuhan rumah di Indonesia.

Melihat hal tersebut Guru Besar Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia (FEBUI) Ruslan Prijadi mengatakan terdapat enam (6) upaya yang harus dilakukan dalam rangka strategi pembiayaan perumahan dalam bayang-bayang perlambatan ekonomi, di antaranya :

Pertama yakni keterjangkauan (affordability), tidak dapat dibendung bahwa semakin berganti tahun sektor perumahan akan mengalami kenaikan harga. Akan tetapi kenaikan harga tersebut dinilai kurang telat lantaran adanya isu perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Ketika ekonomi melambat, suku bunga akan lebih rendah sehingga menarik penerbitan KPR (Kredit Pembiayaan Rumah) bagi calon pembeli rumah.

Baca Juga : Rumah MBR Akan Naik, REI: Angin Segar Pengembang Perumahan

“Namun, pada saat yang sama, tingkat pengangguran biasanya menjadi lebih tinggi, sehingga menurunkan kemampuan masyarakat untuk membeli rumah,” ungkap dia dalam Economic Outlook dan Prospek Sektor Perumahan tahun 2023 yang diselenggarakan BP Tapera, Senin, (19/12/2022).

Kedua yaitu Mobilitas Sosio-Ekonomis. Dia menjelaskan, penurunan pertumbuhan ekonomi tersebut juga menurunkan daya beli masyarakat terhadap kepemilikan rumah. Sementara, penurunan tingkat suku bunga bakal meningkatkan minat beli masyarakat.

Ilustrasi rumah daerah. Dok. Ist

Dengan demikian, jika hal tersebut terjadi bakal meningkatkan volume KPR, yang mana permintaan masih sangat tinggi terkait Backlog (kekurangan perumahan) untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Lalu, akan terjadi mobilisasi masyarakat ke tingkat yang lebih miskin.

Ketiga yakni me-leverage tingkat permintaan. Dalam menjalankan upaya ini pemerintah dapat memberikan insentif bagi perbankan. Di mana, memberikan insentif kepada bank untuk meningkatkan pemberian KPR kepada masyarakat. Juga memperluas kepesertaan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) dan Non-MBR.

Lalu, penyedia rumah murah, tentunya dengan mendorong peningkatan pembangunan perumahan yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasikan rendah. Kemudian, memberikan penurunan tingkat suku bunga dengan menyediakan skema pembiayaan perumahan dengan suku bunga rendah bagi MBR yang belum memenuhi syarat di Bank.

“Masyarakat juga dituntut untuk memanfaatkan teknologi digital untuk memudahkan akses pengajuan KPR dan meningkatkan efisiensi,” kata dia.

Keempat yaitu penguatan Tapera yang dapat dilakukan salah satunya yakni menarik minat dan meningkatkan partisipasi penabung. Melakukan penyediaan dana jangka-panjang KPR agar lebih fleksibel (berorientasi pada penabung). Juga me-matchingkan deposit (pengerahan) & pemupukan dengan pemanfaatan, serta menjaga kinerja keuangan (operasional) yang stabil.

Kelima yakni dibutuhkan peran aktif pemerintah daerah (Pemda). Keterlibatan pemerintah daerah dalam penyediaan rumah sangat dibutuhkan oleh pengembang perumahan, terutama dari sisi pengadaan lahan, pengembangan rumah, dan pengelolaan rumah.

Keenam yakni pembiayaan perumahan inklusif, fintech (Financing Technology). Dalam hal ini salah satunya yakni melakukan full accessibility yaitu fintech dapat menyediakan platform pembiayaan perumahan dengan cara crowdfunding atau peer-to-peer lending yang memberikan kemudahan bagi MBR.

Long-term financing yakni membantu pembiayaan perumahan yang berjangka panjang dengan menawarkan solusi alternatif seperti pinjaman online yang fleksibel dan cepat.

Collaborative financing yaitu melakukan fintech dapat bekerja sama dengan bank atau lembaga keuangan lainnya untuk menawarkan pembiayaan yang terdiri dari pinjaman bank dan pinjaman fintech.

Simplycity yakni fintech dapat menawarkan pembiayaan perumahan dengan teknologi terkini, seperti sistem pembayaran online atau aplikasi yang memudahkan konsumen dalam memantau keuangan dan membayar cicilan.

Customer centric yaitu dengan platform dan bank digital memudahkan layanan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen yang unik.

Baca Artikel Selanjutnya :

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp