Silvia Halim: Passion, Goals dan Mimpi
Di dunia konstruksi ini tidak cuma laki-laki saja, tapi bisa dijalankan oleh laki-laki dan perempuan.
Konstruksi Media – Silvia Halim tak pernah gentar dalam menekuni profesi di dunia konstruksi. Memang bukan perkara yang mudah, apalagi untuk kaum Hawa yang dikenal dengan kelembutannya. Baginya terjun langsung dalam profesi yang didominasi pria menjadi tantangan tersendiri.
Lulusan Fakultas Teknik Sipil di Universitas Teknologi Nanyang, Singapura ini seakan tak kenal lelah menekuni profesi yang kental dengan dunia laki-laki. Selama 12 tahun, Silvia, sapaannya, berjibaku di Land Transport Authority (LTA) Singapura sampai dipercaya menjadi Project Manager Road Projects Group.
“Perempuan juga bisa berkembang di industri yang disebut didominasi laki-laki,” kata Silvia saat ditemui Konstruksi Media di Wisma Nusantara, Jakarta, Maret 2023.
Setelah melanglang buana di negara tetangga, Silvia kembali ke Tanah Air dan langsung mendapatkan kepercayaan untuk memantau, mengelola, dan mengawal di lapangan terkait pembangunan dan perkembangan proyek MRT.
“Saya pada 2016 diangkat menjadi Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta. Saya ingin sekali memberikan transportasi yang baik di Indonesia karena saya sendiri merasakan di Singapura, orang hidup di sana, transportasi publik sangat efisien, nyaman, bersih dan kehidupan sehari-hari jadi lebih mudah,” ucap sulung dari tiga bersaudara itu.
Sosok Silvia Halim jadi bukti nyata seorang perempuan mampu bekerja dan berkembang di industri teknik, yang seringkali diasosiasikan sebagai pekerjaan laki-laki. Apalagi, wanita kelahiran 18 Juni 1982 ini menjadi satu-satunya perempuan yang berada di jajaran direksi PT MRT.
Menurut dia, dunia konstruksi itu seperti petualangan, karena setiap hari tidak ada yang sama, selalu bergerak. Jadi tantangan selalu berbeda dan bakal menemukan challenge antara proyek satu dengan yang lain.

“Bukan karena perempuan sehingga tidak bisa mengerjakan hal-hal tertentu. Perempuan dapat melakukan apa yang dia inginkan,” kata perempuan yang kini menjabat sebagai Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Otorita IKN itu.
Ia mengatakan, perempuan bekerja di industri yang didominasi laki-laki sangat bagus. Semakin banyak perempuan yang berkarier di bidang tersebut, maka hasil karya industri tersebut semakin efektif memberikan manfaat bagi semua pengguna dan menguatkan bila perempuan juga bisa sukses.
“Di dunia konstruksi ini tidak cuma laki-laki saja, tapi bisa dijalankan oleh laki-laki dan perempuan. Ternyata ilmu yang dibutuhkan untuk di dunia ini adalah ilmu yang tak kenal gender. Dari pengalaman pribadi, kita lihat dari dalam diri sendiri dulu, untuk tidak memberikan limitasi ke diri sendiri. Kadang-kadang our biggest enemy is ourself,” ucap dia.
Menurut dia, saran dan pendapat laki-laki lebih mudah diterima dibandingkan saran dari perempuan. Walaupun sebenarnya isi dan saran tersebut sama. Hal tersebut, kata dia, menjadi tantangan tersendiri.
“Seperti halnya, memberikan pendapat, terus direspons ya biasa atau kadang ditolak. Terus ada orang lain yang kebetulan laki-laki memberikan pendapat, ternyata pendapat itu pada dasarnya sama. Terus yang itu dibilang, Okay! Good idea. Padahal itu yang juga barusan saya katakan,” ujar Silvia.
Ia mengatakan, hal yang membuat bisa bertahan pada pekerjaannya hingga sekarang adalah tujuan. Menurut Silvia, penting untuk menemukan passion, goals, maupun mimpi dalam hidup. Selain itu, fokus juga menjadi kunci penting dalam karier.
“Saya ingatkan diri saya lagi, kenapa saya ngerjain ini, buat apa, dan ketika saya ingat kalau ini untuk masyarakat, bukan untuk saya, itu yang membuat saya maju terus. Dari situ saya sadar, betapa pentingnya fokus dalam pekerjaan atau apa pun itu. Karena ketika kamu hilang fokus, enggak akan tercapai target, goals, cita-cita kamu,” jelas Silvia.