Luncurkan Aplikasi IOC, SKK Migas Bakal Awasi Produksi Sumur Bor oleh KKKS
Konstruksi Media – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dikabarkan telah melakukan sosialisasi secara daring (online) kepada 34 kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang memiliki program pengeboran sumur pengembangan pada 2022.
Hal ini sebagai tanda dimulainya penggunaan aplikasi monitoring well connection/flowline yang terintegrasi dengan Integrated Operation Center (IOC) dalam upaya monitoring ketat terhadap percepatan produksi sumur-sumur yang dibor.
“Pembangunan aplikasi monitoring well connection dan flowline adalah salah satu upaya SKK Migas melakukan simplifikasi proses, menciptakan data yang terintegrasi dan akurat,” ujar Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno dalam keterangan tertulis, Kamis (13/1/2022)
- Menteri Ara Kaji Ulang Syarat Rumah Subsidi bagi Warga Berpenghasilan di Atas Rp7 Juta
- Meneropong Dinamika Resiprositas Ekonomi GlobalLesson Learned Tarif Resiprokal dan Dampaknya terhadap Mitra Dagang Dunia
- Per 3 April 2025, Hutama Karya Catatkan 122,24% Kenaikan Volume Kendaraan Lintasi JTTS
Sebelumnya, ketika dilakukan secara manual, integrasi laporan dari KKKS dilakukan secara manual. Proses konsolidasi administrasi ini memakan waktu, serta tidak mendukung untuk pengambilan keputusan secara cepat.
Menurut Julius, pembangunan aplikasi ini bagian dari pelaksanaan program-program dalam rencana dan strategi (Renstra) Indonesia Oil and Gas (IOG) 4.0. Khususnya untuk mencapai target produksi minyak 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar kaki kubik gas per hari (BSCFD) pada 2030.
Ia juga menyampaikan bahwa pada akhir 2021 dan awal 2022 pimpinan SKK Migas melakukan kunjungan ke beberapa titik lokasi lifting dan pengeboran. Kunjungan ini untuk memastikan dan mengusahakan seoptimal mungkin pelaksanaan lifting 2021 dan menangkap peluang pada 2022 untuk mencapai target tinggi seperti amanat APBN.
“Kita fokus pada pemboran pengembangan karena memberikan kontribusi langsung terhadap produksi tahun berjalan. Saya memberikan tantangan tinggi pencapaian 90%-95% sumur onstream terhadap sumur-sumur yang dibor pada tahun yang sama,” katanya.
Terlepas dari itu semua, kata Julius, Indonesia membutuhkan investasi besar jika ingin target produksi 1 juta bopd dan 12 bscfd gas pada 2030 tercapai. Investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai US$ 187 miliar atau lebih dari Rp 2.663 triliun hingga 2030.
Artinya sekitar US$ 18,7 miliar atau Rp 266 triliun per tahun. Ini menjadi salah satu tantangan terbesar untuk mencapai target produksi ambisius tersebut, sebab realisasi investasi di sektor ini hanya US$ 10-11 miliar atau Rp 142-156 triliun per tahun.***