Konstruksi Media – Masa depan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) kembali menjadi sorotan publik setelah mencuat rencana penggabungan dengan PT Hutama Karya (Persero) serta opsi untuk menarik perusahaan dari bursa (go private).
Dalam satu dekade terakhir, BUMN karya menjadi garda terdepan pembangunan infrastruktur nasional. Percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN) mulai dari jalan tol, jembatan, bendungan, hingga berbagai fasilitas publik lainnya membuat perusahaan-perusahaan ini menggelar ekspansi besar-besaran secara bersamaan.
Namun investasi jumbo tersebut tidak diikuti pengembalian yang cepat, sehingga menekan kondisi keuangan perusahaan. Waskita Karya menjadi salah satu yang paling terdampak, dengan beban utang tinggi dan arus kas yang tersendat, sehingga kinerjanya mengalami kemunduran signifikan.
Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Yohanis Hans Kwee menilai masalah yang dialami WSKT dan sejumlah BUMN karya merupakan konsekuensi dari strategi ekspansi yang terlalu agresif pada era sebelumnya.
“Sepuluh tahun kemarin pembangunan infrastruktur terlalu ekspansif, sementara tingkat pengembaliannya rendah,” ujar Hans.
Ia menekankan bahwa BUMN karya membutuhkan kebijakan penyelamatan yang adil, mengingat ekspansi yang dilakukan merupakan bagian dari penugasan negara.
“Perusahaan karya harus diselamatkan karena mengikuti arahan pemerintah untuk ekspansi,” tegasnya.
Hans menyebut penyelamatan harus dimulai melalui penataan utang yang komprehensif. Restrukturisasi menjadi kunci agar perusahaan dapat kembali mengendalikan arus kas, merapikan portofolio proyek, serta memilih pekerjaan yang benar-benar menghasilkan pendapatan.
Menurutnya, penyelamatan WSKT tidak boleh dilakukan setengah-setengah, karena berpotensi menimbulkan efek domino terhadap sektor konstruksi dan perbankan.
Baca juga: Jelang Akhir Tahun, Waskita Lepas Dua Ruas Tol untuk Perkuat Arus Kas
Isu go private juga tengah menjadi pembahasan hangat. Opsi ini dinilai dapat memberi ruang bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan internal tanpa tekanan pasar.
Namun pasar modal memiliki pandangan berbeda. Hans menilai keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan pemerintah, tetapi idealnya perusahaan yang sehat tetap berada di bursa.
“Kalau akhirnya harus go private itu pilihan pemerintah, tapi perusahaan bagus lebih baik tetap go public,” ucap Hans.
Ia menambahkan bahwa keberadaan di pasar modal memberikan disiplin tata kelola, transparansi, serta akses pendanaan yang lebih luas. Pasar publik juga menjadi faktor pendorong efisiensi dan strategi bisnis yang lebih terarah.
Wacana merger WSKT dengan Hutama Karya turut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas konsolidasi sebagai strategi jangka panjang.
Penggabungan BUMN karya dinilai dapat menghasilkan entitas yang lebih kuat dan kompetitif dalam menangani proyek besar, namun sekaligus membawa risiko integrasi utang dan proyek mangkrak yang belum terselesaikan. Pasar masih menanti peta jalan kebijakan pemerintah sebelum keputusan final diambil.
Sektor konstruksi sendiri menunjukkan pemulihan yang belum merata. Sejumlah proyek jalan tol mulai menghasilkan pendapatan, namun belum cukup untuk mengimbangi tingginya beban ekspansi sebelumnya. Di sisi lain, perbankan semakin selektif dalam pembiayaan sektor konstruksi sehingga perusahaan harus lebih berhati-hati dan fokus pada proyek dengan tingkat kelayakan tinggi. (***)




