Konstruksi Media – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terus memacu pembangunan tiga proyek smelter nikel berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Sulawesi: Pomalaa, Sulawesi Tenggara; Bahodopi, Sulawesi Tengah; dan Sorowako, Sulawesi Selatan. Ketiga proyek ini menjadi bagian dari strategi hilirisasi nikel dan penguatan rantai pasok industri baterai kendaraan listrik.
Direktur Utama Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menyebut proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa sebagai yang paling maju. Proyek ini mencakup tambang dan smelter HPAL, dibangun bersama mitra Cina, Zhejiang Huayou Cobalt, serta perusahaan otomotif Amerika Serikat, Ford Motor. Total investasi mencapai US$4,5 miliar atau sekitar Rp76,2 triliun (kurs Rp16.935/US$).
“Progres konstruksi pabrik HPAL sudah mencapai 60 persen, sementara sektor tambang menyentuh 60 persen juga. Dua autoclave sudah datang, tiga lainnya menyusul, sehingga total lima autoclave akan dipasang. Mechanical completion ditargetkan Agustus 2026,” kata Bernardus dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR, Senin (19/1/2026).
Smelter Pomalaa memiliki kapasitas produksi 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun, dengan pasokan bijih dari Blok Pomalaa yang mampu menghasilkan 7 juta ton nikel saprolite dan 21 juta ton nikel limonit per tahun. Pada Agustus 2026, smelter sudah siap menerima pasokan bijih nikel dengan kebutuhan stockpile tiga bulan. Proyek ini juga diperkirakan menyerap 5.150 tenaga kerja.
Baca juga: PT Vale, Penopang Utama Ekonomi Luwu Timur dan Harapan Tenaga Kerja Lokal
Proyek kedua adalah IGP Morowali di Bahodopi, yang dikembangkan bersama perusahaan Cina, GEM, dan Korea Selatan, Ecopro. Smelter HPAL Bahodopi ditargetkan mencapai mechanical completion pada kuartal IV 2026, dengan kapasitas produksi 66.000 ton MHP per tahun. Bahan baku smelter akan dipasok dari tambang yang mampu menghasilkan 5,5 juta ton nikel saprolite dan 10,4 juta ton nikel limonit per tahun, serta membutuhkan persediaan bijih untuk tiga bulan pengoperasian. Proyek ini diperkirakan menyerap 3.579 tenaga kerja.
Proyek ketiga, IGP Sorowako Limonite di Sulawesi Selatan, dibangun bersama Zhejiang Huayou Cobalt, dengan calon mitra ketiga masih dalam tahap asesmen. Progres pembangunan smelter baru mencapai 17 persen, dengan kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun dan pasokan bijih 11,5 juta ton nikel limonit per tahun. Smelter Sorowako ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Bernardus menekankan pentingnya dukungan Komisi XII DPR terkait keberlanjutan pasokan bijih nikel agar ketiga proyek smelter dapat berjalan sesuai rencana. “Diharapkan di Pomalaa Agustus 2026 minimal dua autoclave selesai, kemudian Januari 2027 seluruh line selesai. Bahodopi diperkirakan kuartal IV 2026 selesai, dan Sorowako diharapkan mulai 2027,” tuturnya. (***)

