Usai Injeksi Danantara, Krakatau Steel Garap Bisnis Hulu Baja untuk Integrasi Rantai Nilai
Langkah ini dilakukan seiring berjalannya restrukturisasi keuangan dan perbaikan operasional Krakatau Steel
Konstruksi Media – Emiten BUMN baja PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) bersiap memperluas bisnisnya ke segmen hulu industri baja setelah memperoleh dukungan pendanaan dari BPI Danantara sebagai bagian dari proses penyehatan dan restrukturisasi perusahaan.
Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria menyampaikan, pengembangan bisnis baja hulu tersebut bertujuan membangun integrasi rantai nilai dari sisi upstream hingga downstream. Proyek pengembangan di segmen hulu ditargetkan mulai berjalan pada tahun 2026.
Langkah ini dilakukan seiring berjalannya restrukturisasi keuangan dan perbaikan operasional Krakatau Steel. Danantara terlibat secara mendalam dalam proses penyehatan perusahaan, mulai dari restrukturisasi utang hingga efisiensi biaya operasional.
Dalam kebijakannya, Danantara menegaskan bahwa suntikan modal berbentuk equity injection hanya dapat dilakukan jika perusahaan telah mencatatkan kontribusi margin positif. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan tambahan modal benar-benar menciptakan nilai, bukan sekadar menutup beban operasional.
“Kalau kita memberikan equity injection pada saat perusahaannya belum sampai di titik kontribusi margin positif, itu sama saja menggarami laut. Uangnya akan habis untuk operasional,” ujar Dony di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Selain restrukturisasi keuangan, Danantara juga mendorong Krakatau Steel untuk kembali masuk ke segmen hulu baja agar memiliki struktur bisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Integrasi tersebut diharapkan dapat diselesaikan pada tahun ini sebagai fondasi pemulihan kinerja jangka panjang perseroan.
Sebagai bagian dari dukungan penyehatan, Krakatau Steel memperoleh fasilitas pinjaman pemegang saham (shareholder loan) dari Danantara dengan nilai maksimal Rp4,93 triliun. Fasilitas ini ditujukan untuk mendukung restrukturisasi dan perbaikan fundamental perusahaan.
Baca juga: Dukuh Atas Bakal Jadi Pusat Integrasi MRT, LRT, KRL, dan Kereta Bandara
Untuk menjamin fasilitas pinjaman tersebut, KRAS mengagunkan aset dengan nilai mencapai Rp13,94 triliun, atau lebih dari 50 persen total kekayaan bersih perseroan. Penjaminan aset ini dilakukan pada 8 Januari 2026 dan berkaitan dengan Perjanjian Pinjaman Pemegang Saham yang ditandatangani pada 19 Desember 2025, serta telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) 23 Desember 2025.
Berdasarkan keterbukaan informasi, skema penjaminan dilakukan melalui berbagai instrumen hukum, antara lain jaminan fidusia atas persediaan, fidusia piutang usaha, gadai rekening, serta hak tanggungan atas aset tertentu, dengan total nilai jaminan Rp13,94 triliun.
Dari sisi struktur pendanaan, fasilitas shareholder loan tersebut terdiri atas pinjaman modal kerja sebesar Rp4,18 triliun dengan jangka waktu minimal lima tahun, serta pinjaman sebesar Rp752,8 miliar dengan tenor minimal enam tahun.
Sebagian dana pinjaman digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional Krakatau Steel. Sementara sisanya dialokasikan untuk pembiayaan program pengunduran diri sukarela (golden handshake) serta program penyehatan dana pensiun melalui mekanisme lump sum window.
Langkah ekspansi ke bisnis hulu ini diharapkan dapat memperkuat daya saing Krakatau Steel, menekan ketergantungan pada pasokan eksternal, serta menciptakan struktur bisnis yang lebih berkelanjutan di tengah upaya pemulihan kinerja industri baja nasional. (***)




