Konstruksi Media – Industri baja Indonesia mencatatkan performa gemilang dengan total nilai ekspor mencapai US$ 29,23 miliar atau setara Rp490,24 triliun sepanjang 2024.
Capaian ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai eksportir baja terbesar ketiga di Asia Tenggara setelah Malaysia dan Vietnam.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza, menyebut kinerja ini membuktikan industri baja nasional semakin terintegrasi dengan rantai perdagangan global.
“Indonesia menempati posisi sebagai salah satu eksportir baja terbesar di Asia Tenggara setelah Malaysia dan Vietnam,” ungkap Faisol dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI pekan ini.
Baca Juga:
MRT Ajak 7 Raksasa Properti Garap Jalur Kembangan-Balaraja
Tiongkok masih menjadi motor utama penggerak ekspor baja Indonesia dengan nilai pasar mencapai US$ 16,11 miliar.
Selain itu, produk baja nasional juga mengalir deras ke negara-negara lain seperti Taiwan, India, Australia, hingga Vietnam.
Di panggung global, Indonesia pun berhasil menduduki peringkat ke-13 sebagai negara penghasil baja kasar terbesar di dunia pada 2025.
Total produksi baja kasar nasional tercatat mencapai 19 juta ton, mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yang sebesar 18,6 juta ton.
Sementara itu, struktur konsumsi baja di dalam negeri masih sangat didominasi oleh sektor konstruksi dengan penyerapan mencapai 77,1 persen.
Baca Juga:
Belajar dari Inggris, RI Butuh Proteksi Cepat untuk Industri Baja Nasional
Sektor otomotif menyusul di posisi kedua sebagai penyerap produk baja terbesar dengan kontribusi 11,6 persen.
Pertumbuhan produksi dan ekspor yang konsisten ini diharapkan dapat terus memperkuat kemandirian industri hulu nasional.
Pemerintah optimistis sektor baja akan tetap menjadi fondasi utama bagi akselerasi manufaktur dan hilirisasi di masa depan.




