Konstruksi Media – Industri besi dan baja nasional kembali mendapat angin segar dari pemerintah. Di tengah tekanan global, isu impor murah, serta tantangan utilitas produksi, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperkuat daya saing industri baja nasional sebagai tulang punggung sektor konstruksi dan investasi.
Hal itu mengemuka dalam agenda The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) yang mempertemukan pelaku industri dengan para pemangku kebijakan.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, menyampaikan apresiasi terhadap kepemimpinan IISIA yang dinilai telah berjalan baik serta diharapkan mampu menjadi penopang utama industri baja nasional. Ia menekankan pentingnya agar produksi dalam negeri benar-benar bisa menikmati pasar domestik sebagai prioritas.
“Kami berharap produksi dalam negeri ini bisa menikmati pasar karena ini menjadi salah satu prioritas kita, dan industri dalam negeri juga bisa lebih kompetitif,” ungkapnya Todotua dalam gelaran Munas IISIA 2026, Rabu, (11/02/2026) malam.
Ia menambahkan saat ini Indonesia justru mengalami surplus dalam perdagangan mesin dan baja. Namun, impor tetap terjadi karena adanya kebutuhan spesifikasi tertentu yang belum mampu diproduksi di dalam negeri.
“Kita sedang surplus. Di sisi lain, importasi kembali menyesuaikan dengan demand di dalam negeri yang kebetulan spesifikasinya belum bisa kita penuhi,” ungkapnya.
Guna melindungi industri nasional dari praktik perdagangan tidak sehat, kata dia, Pemerintah mengandalkan mekanisme pengawasan harga dan kebijakan anti-dumping. Todotua mengatakan setiap produk impor yang dijual jauh di bawah harga wajar akan ditelusuri secara kasus per kasus.
“Kami punya Komite Anti-Dumping Indonesia yang akan mengeksplorasi case per case agar produk murah dari luar tidak merugikan industri dalam negeri,” paparnya.

Jaga Keberlangsungan Investasi
Dari sisi investasi, ia menjelaskan bahwa Kementerian Investasi tidak hanya mengejar realisasi investasi baru, tetapi juga menjaga keberlangsungan investasi yang sudah ada. Menurutnya, sektor konstruksi memiliki korelasi langsung dengan industri besi dan baja sebagai bagian dari rantai pasok utama.
“Investasi berkorelasi langsung dengan konstruksi, dan di dalamnya ada kepentingan besar industri iron and steel. Karena itu, komponen yang menopang daya saing harus kita support,” katanya.
Lebih jauh, pemerintah tengah mengkaji kebijakan strategis berupa master list bahan baku dan mesin agar industri baja nasional menjadi prioritas dalam rantai pasok investasi. Namun, Todotua menekankan bahwa industri juga harus berbenah.
“Kami mendorong prioritas supply, tapi juga berharap industri bisa memberikan harga yang kompetitif. Karena pada akhirnya kita harus menjaga nilai daya saing investasi yang masuk,” tuturnya.
Baca Juga :




