INFOKorporasi

Susun Strategi, PP Presisi Targetkan Tahun 2023 Revenue Naik 20%

Presisi telah melakukan strategi keuangan melalui Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan I PP Presisi Tahun 2022.

Konstruksi Media – Direktur Utama PT PP Presisi Tbk (PPRE) Rully Iskandar mengatakan, menargetkan peningkatan pendapatan lebih dari 20 persen pada 2023 seiring dengan adanya peluang dari program hilirisasi tambang yang akan meningkatkan permintaan pembangunan smelter di dalam negeri.

Untuk mencapai target tersebut, tengah disusun strategi optimalisasi alat berat, peningkatan kapasitas keuangan, peningkatan kapabilitas SDM, penerapan sistem SCM tersentralisasi, dukungan IT dan equipment technology, serta peningkatan tata kelola perusahaan.

“Melalui upaya tersebut, fokus perseroan pada jasa pertambangan yang terintegrasi dapat segera terwujud yang akan memberikan pendapatan dan arus kas yang lebih baik. Kami menargetkan peningkatan revenue lebih dari 20 persen pada 2023,” kata Rully melalui keterangan tertulis, Jumat (25/11/2022).

Ia mengatakan, PP Presisi telah melakukan strategi keuangan melalui Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan I PP Presisi Tahun 2022 yang digunakan untuk menambah armada jasa pertambangan yang dibutuhkan seiring dengan peningkatan dan proyeksi kontrak baru.

Hasil obligasi tahap I senilai Rp202,9 miliar dengan biaya penawaran umum obligasi Rp4,9 miliar sehingga perolehan hasil bersih Rp198 miliar dengan perencanaan penggunaan 70 persen belanja modal dan 30 persen modal kerja.

Baca juga: Tegas! Basuki Hadimuljono: Utamakan Produk Dalam Negeri, Stop Impor

“Realisasi penyerapan penggunaan dana obligasi per September 2022, yaitu belanja modal mencapai Rp77,2 miliar atau 56 persen dari target Rp138,6 miliar dan modal kerja Rp56,8 miliar atau 96 persen dari target Rp59,4 miliar, sehingga perseroan masih dapat memiliki kelonggaran dalam menggunakan dana obligasi untuk menambah arnada jasa pertambangan,” ucapnya.

Sementara itu, hingga kuartal III/2022, pendapatan PP Presisi mencapai Rp2,6 triliun atau mengalami peningkatan 40 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp1,8 triliun.

Kontribusi pendapatan pada lini bisnis jasa pertambangan telah mencapai sebesar 27,3 persen. Pencapaian pendapatan tersebut merupakan merupakan catatan positif ditengah fokus perseroan pada pengembangan bisnis jasa pertambangan ke depan sebagai sumber pemasukan.

“Fokus tersebut tentunya juga selaras dengan kebijakan pemerintah dalam program hilirisasi tambang dengan menggeliatnya pembangunan smelter yang mendorong permintaan akan bahan baku baterai yang menyebabkan peningkatan harga pada nikel,” jelas Rully.

Baca artikel selanjutnya:

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp