Supply Chain Management Penentu Arah Proyek Konstruksi
Konstruksi Media — Seiring dengan masifnya pembangunan infrastruktur nasional (mulai dari bendungan, jalan tol, kawasan industri hingga fasilitas strategis negara), terdapat satu fungsi yang kerap luput dari sorotan, namun justru menjadi penentu utama keberhasilan proyek, yakni Supply Chain Management (SCM).
Di balik megahnya konstruksi yang berdiri, SCM bekerja sebagai sistem yang memastikan seluruh kebutuhan proyek hadir tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya.
Lebih dari sekadar aktivitas pengadaan barang dan jasa, SCM kini menjelma menjadi jantung operasional proyek konstruksi modern.

Perannya merentang sejak tahap perencanaan, mengatur ritme pelaksanaan, hingga memastikan kesinambungan pekerjaan di tengah kompleksitas proyek berskala besar. Ketika rantai pasok dikelola secara strategis dan terintegrasi, proyek tidak hanya berjalan, tetapi bergerak dengan kepastian.
Senior Vice President Supply Chain Management PT Nindya Karya (Persero), Cut Raisa, mengungkapkan bahwa SCM bukan lagi fungsi administratif semata.
Baca Juga : Leading to Excellence: Enam Dekade Lebih Nindya Karya Mengukir Peradaban Indonesia
Dalam industri konstruksi yang dinamis, SCM berperan sebagai pengendali ritme proyek yang memastikan material, peralatan, dan jasa tiba sesuai kebutuhan.

“Tiga hal dalam proyek (waktu, mutu, dan biaya) menjadi penentu apakah proyek berjalan lancar atau justru tersendat,” jelasnya.
Menurutnya, setiap proyek memiliki karakteristik yang berbeda, mulai dari lokasi, pemilik proyek, hingga risiko logistik yang dihadapi. Dalam kondisi tersebut, SCM dituntut tidak hanya patuh pada prosedur, tetapi juga adaptif terhadap dinamika lapangan. Sebab, satu keterlambatan kecil dalam rantai pasok dapat memicu efek domino yang mengganggu keseluruhan progres konstruksi.
Transformasi SCM di Nindya Karya menjadi bukti bahwa fungsi ini kini ditempatkan sebagai tulang punggung operasional. Sejak 2021, perusahaan memperkuat sistem pengadaan barang dan jasa dengan pendekatan yang lebih transparan, terintegrasi, dan berbasis digital.
Proses yang sebelumnya administratif kini berkembang menjadi sistem strategis yang dapat dikontrol, diaudit, dan dioptimalkan secara real time.

Melalui digitalisasi, penguatan seleksi rekanan, hingga pengendalian biaya berbasis sistem, SCM mampu mengawal hingga 60–70 persen biaya produksi proyek.
Di sinilah peran SCM menjadi semakin krusial, bukan hanya memastikan ketersediaan material, tetapi juga membangun kepercayaan, menjaga stabilitas proyek, serta menjamin keberhasilan pembangunan infrastruktur nasional dari balik layar.
Note: Naskah ini sudah tayang di majalah Konstruksi Media Edisi XIX/2026, untuk lebih detailnya silahkan klik link berikut.. https://online.anyflip.com/nwzpn/devj/mobile/index.html




