SCI: Prioritas Bukan KA Baru, Tapi Sistem Logistik Kereta Api Jawa Barat
SCI Indonesia menilai pasar penumpang Jakarta–Bandung sudah jenuh dan mengusulkan pengalihan rencana KA Kilat Pajajaran menuju penguatan logistik berbasis kereta api untuk mendukung industri manufaktur Jawa Barat.
Konstruksi Media — Rencana pengembangan kereta cepat Jakarta–Bandung “Kilat Pajajaran” oleh Pemprov Jawa Barat dan PT Kereta Api Indonesia (Persero/ KAI) menuai sorotan dari para pemerhati transportasi dan logistik.
Meski layanan ini digagas untuk menawarkan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, sejumlah analis menilai proyek tersebut kurang tepat sasaran dalam kondisi pasar yang semakin padat. Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menyampaikan apresiasi atas upaya peningkatan layanan transportasi, namun menilai bahwa pasar penumpang rute Jakarta–Bandung sudah memasuki kondisi jenuh.
“Segmentasi pasar penumpang sudah sangat kompetitif dan jenuh. Menambah layanan serupa tidak memberikan nilai tambah yang cukup dari sisi ekonomi maupun efisiensi jaringan transportasi,” terang Setijadi kepada Konstruksi Media, Rabu, (03/12/2025).
Menurutnya, saat ini rute Jakarta–Bandung telah dilayani oleh beragam moda seperti KA Parahyangan, kereta cepat Whoosh, layanan travel, shuttle point-to-point, hingga Tol Japek II yang segera beroperasi dengan waktu tempuh yang setara. Dalam posisi seperti ini, layanan baru hanya berpotensi menambah beban bagi operator tanpa proyeksi permintaan yang memadai.
Dirinya juga menyoroti potensi kompetisi internal yang paradoksal, mengingat KAI memiliki keterlibatan tidak langsung pada layanan Whoosh melalui KCIC.
“Jika Kilat Pajajaran tetap dilanjutkan, akan ada tiga layanan serupa [Parahyangan, Whoosh, dan Kilat Pajajaran] yang semuanya berada dalam ekosistem KAI. Ini bukan strategi yang sehat bagi keberlanjutan usaha maupun efisiensi sistem transportasi nasional,” imbuhnya.

Penguatan Industri Logistik Jabar
Untuk itu, SCI mendorong agar pemerintah dan KAI mengalihkan fokus pengembangan dari transportasi penumpang ke penguatan logistik industri Jawa Barat. Menurut Setijadi, provinsi ini merupakan pusat manufaktur nasional dengan lebih dari 8.200 perusahaan menengah-besar dan 38 kawasan industri.
“Kebutuhan terbesar Jawa Barat saat ini adalah sistem logistik yang cepat, terintegrasi, dan efisien. Pengembangan jaringan logistik berbasis kereta api akan memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih besar,” paparnya.
Salah satu peluang strategis adalah optimalisasi container yard (CY) KAI di Cikarang, Klari, Cibungur, dan Bandung yang dapat dijadikan pintu ekspor–impor di masing-masing wilayah industri.
Berdasarkan analisis SCI, mayoritas ekspor Tanjung Priok berasal dari Bekasi, Karawang, dan Purwakarta, sementara impor juga didominasi wilayah yang sama.
Pengembangan CY akan mampu menekan biaya logistik, mengurangi kemacetan, memindahkan beban angkutan dari jalan ke rel, serta menekan praktik overdimension & overload (ODOL).
“Jika ini dijalankan, Jabar akan memiliki sistem logistik yang lebih kompetitif sekaligus memperkuat daya saing industri nasional,” tandas Setijadi.
Baca Juga :
SCI Apresiasi DPR atas RUU Logistik Dalam Prolegnas 2025-2029




