SCI: Konflik AS–Venezuela, Ini Dampaknya untuk Indonesia
SCI mencermati kecenderungan buyer di Amerika Selatan untuk bersikap lebih berhati-hati. Importir mulai memperketat klausul kontrak, menuntut fleksibilitas jadwal pengiriman.
Konstruksi Media – Eskalasi ketegangan geopolitik global kembali menguat setelah serangan Amerika Serikat ke Venezuela, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dan dinamika rantai pasok global. Situasi ini muncul di tengah upaya Indonesia memperluas diversifikasi pasar ekspor ke Amerika Selatan, kawasan yang kian strategis namun sensitif terhadap perubahan biaya dan reliabilitas logistik internasional.
Supply Chain Indonesia (SCI) menilai konflik tersebut memang tidak berdampak langsung pada jalur perdagangan Indonesia–Amerika Selatan, namun potensi dampak lanjutan tetap perlu diantisipasi. Gangguan di negara produsen energi berisiko mendorong volatilitas harga minyak global yang pada akhirnya memicu kenaikan biaya bunker dan surcharge pelayaran, sehingga berpengaruh pada ongkos logistik lintas Pasifik.
Founder dan CEO SCI, Setijadi, menegaskan bahwa tekanan biaya bukan satu-satunya risiko. “Eskalasi geopolitik global juga berpotensi menurunkan reliabilitas jadwal pengiriman. Penyesuaian rute, perubahan port of call, hingga konsolidasi muatan dapat memperpanjang lead time dan meningkatkan ketidakpastian pasokan ke pasar Amerika Selatan,” ujarnya.
Kondisi ini dinilai dapat menekan daya saing produk ekspor Indonesia, khususnya komoditas manufaktur dan produk bernilai tambah menengah.
Dari sisi permintaan, SCI mencermati kecenderungan buyer di Amerika Selatan untuk bersikap lebih berhati-hati. Importir mulai memperketat klausul kontrak, menuntut fleksibilitas jadwal pengiriman, serta meminta jaminan kontinuitas pasokan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Negara tujuan utama seperti Brasil dan Peru menjadi contoh pasar yang semakin selektif dalam pengambilan keputusan impor.
Menghadapi dinamika tersebut, SCI menekankan pentingnya penguatan supply chain resilience bagi eksportir Indonesia.
“Diversifikasi rute pengiriman, penyesuaian kontrak ekspor, serta perencanaan persediaan yang lebih adaptif menjadi kunci. Ketegangan geopolitik tidak seharusnya menghambat agenda diversifikasi pasar, justru harus dijawab dengan manajemen risiko rantai pasok yang lebih matang,” ungkap Setijadi menandaskan.
Baca Juga :
SCI: Prioritas Bukan KA Baru, Tapi Sistem Logistik Kereta Api Jawa Barat




