Saham Sejumlah BUM Karya Menguat, Laba Bersih Masih Terkoreksi
Perolehan kontrak baru menjadi katalis positif di tengah penurunan pendapatan perusahaan.
Konstruksi Media – Sejumlah emiten sektor konstruksi mencatatkan penguatan harga saham sejak awal tahun meski sebagian besar perusahaan masih membukukan rugi dan penyusutan laba bersih pada semester pertama 2025. Katalis positif berasal dari perolehan kontrak baru yang signifikan, memberikan sentimen baik di tengah catatan rugi perseroan.
Penguatan saham terlihat dalam perdagangan Rabu (4/9), termasuk PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT PP Tbk (PTPP), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, ADHI naik 2,24 persen ke level 278, PTPP naik 3,17 persen ke level 390, WSBP melonjak 7,14 persen ke level 30, dan WTON naik 10,75 persen ke level 103. Sementara WSKT dan WIKA tengah disuspend karena tersendat dalam pembayaran utang dan bunga obligasi.
Jika ditinjau sejak awal tahun, hampir seluruh saham emiten konstruksi menunjukkan tren penguatan. ADHI naik 31,13 persen, PTPP meningkat 16,07 persen, WSBP melonjak 87,50 persen, WTON naik 38,96 persen, sedangkan WIKA turun 16,39 persen dan WSKT stagnan sejak Mei 2023.
Baca juga: Merger 7 BUMN Karya Ditargetkan Tuntas Semester II 2026, Analis Nilai Saham Masih Penuh Tantangan
Sejumlah emiten juga melaporkan perolehan kontrak baru yang menjadi pendorong sentimen positif. PTPP mencatatkan kontrak sejak Januari hingga Agustus 2025 senilai Rp 14,78 triliun, sebagian besar berasal dari proyek swasta, BUMN, dan pemerintah dengan kontribusi sektor pertambangan, gedung, pelabuhan, serta jalan dan jembatan. ADHI memperoleh kontrak baru hingga kuartal kedua 2025 senilai Rp 3,5 triliun, didominasi lini teknik dan konstruksi, disusul properti, jasa pelayanan, investasi, dan manufaktur. Pendanaan ADHI bersumber dari BUMN 58 persen, pemerintah 22 persen, dan sisanya swasta. Sementara WSBP mencatat Nilai Kontrak Baru sebesar Rp 474 miliar hingga Juni 2025, dengan Nilai Kontrak Dikelola sekitar Rp 1,76 triliun.
Meski harga saham menguat, sebagian emiten masih membukukan rugi. WIKA mencatat kerugian Rp 1,66 triliun pada semester pertama 2025, berbalik dari laba Rp 401,95 miliar pada periode yang sama 2024 akibat penurunan pendapatan 22,31 persen menjadi Rp 5,85 triliun. PTPP mencatat laba bersih Rp 65,24 miliar turun 55,61 persen dari Rp 147 miliar tahun sebelumnya, sejalan dengan penurunan pendapatan usaha 23,77 persen. ADHI membukukan laba bersih Rp 7,54 miliar, turun 45,24 persen dari Rp 13,77 miliar pada semester pertama 2024, dengan pendapatan usaha turun 32,89 persen menjadi Rp 3,81 triliun.
Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memberikan target harga bagi sejumlah emiten konstruksi. ADHI diperkirakan bergerak menuju level 300-310, PTPP di Rp 416-430, dan WTON di Rp 123-130. Kinerja saham yang menguat menunjukkan sentimen positif pasar meski tantangan penurunan laba dan beban proyek masih menjadi perhatian bagi investor. (***)



