Rest Area KM 57 dan KM 62 Tol Japek Dirombak, Menteri PU Targetkan Hilangkan Bottleneck
Permasalahan utama terletak pada desain jalur masuk (entry gate) yang terlalu sempit dan tidak landai, sehingga memicu perlambatan ekstrem kendaraan yang hendak masuk ke rest area.
Konstruksi Media — Pemerintah akan melakukan perombakan besar terhadap Rest Area KM 57 dan KM 62 di ruas Tol Jakarta-Cikampek (Japek) setelah keduanya teridentifikasi sebagai titik utama kemacetan (bottleneck) saat arus mudik dan balik Lebaran 2026.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa permasalahan utama terletak pada desain jalur masuk (entry gate) yang terlalu sempit dan tidak landai, sehingga memicu perlambatan ekstrem kendaraan yang hendak masuk ke rest area.
“Struktur pintu masuk dan keluar akan dirancang ulang agar lebih landai demi mengakomodasi volume kendaraan yang besar secara simultan,” ujar Dody.
Menurutnya, desain yang kurang optimal tersebut menyebabkan antrean panjang hingga ke badan jalan tol, bahkan memicu efek domino kemacetan hingga puluhan kilometer.
Evaluasi Rest Area dan Target Perbaikan
Dody menegaskan, pemerintah akan menurunkan tim khusus untuk melakukan penataan ulang dua rest area tersebut setelah periode arus balik Lebaran selesai. Perombakan ini ditargetkan rampung sebelum periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2027.
“Evaluasi utama memang di KM 57 dan KM 62. Jalur masuknya terlalu sempit, jadi harus kita tata ulang. Harapannya ke depan tidak ada lagi penumpukan kendaraan,” katanya.
Selain perbaikan geometrik, pemerintah juga akan mengevaluasi fungsi rest area, terutama yang belum dilengkapi fasilitas SPBU. Langkah ini penting untuk menghindari praktik berbahaya, seperti kendaraan berhenti di bahu jalan tol.
Standar Ketat Jalan Tol: Zero Tolerance Lubang
Tak hanya rest area, Kementerian PU juga menetapkan standar ketat terhadap kondisi jalan tol. Dody menegaskan, kerusakan jalan seperti lubang (potholes) harus diperbaiki maksimal dalam waktu 1×24 jam.
Baca juga: BPJT Ungkap Investor Asing Ogah Ikut Proyek Tol RI, Masalah Trafik Jadi Sorotan Utama
“Tidak ada toleransi untuk jalan rusak, terutama di periode krusial. Pemantauan dilakukan secara real-time,” tegasnya.
Kerusakan jalan sendiri dipicu oleh kombinasi beban kendaraan berat dan tingginya curah hujan, yang mempercepat degradasi aspal di sejumlah ruas tol, termasuk jalur padat di Jawa Barat.
Skema Investasi dan Peran Swasta
Di sisi lain, pemerintah juga mengakui adanya tantangan investasi dalam pembangunan rest area. Fasilitas tipe A dan B membutuhkan biaya besar, namun tingkat okupansinya hanya tinggi saat musim mudik Lebaran.
Untuk itu, pemerintah tengah mengkaji skema insentif dan pembagian risiko agar tetap menarik bagi investor tanpa mengorbankan aspek keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan.
Koordinasi dengan Operator dan Rekayasa Lalu Lintas
Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Rivan Achmad Purwantono, menyebut pihaknya terus berkoordinasi dalam mengurai kepadatan arus balik.
Jasa Marga mencatat sekitar 2,5 juta kendaraan atau 74 persen pemudik telah kembali ke Jakarta, dengan sisa sekitar 25 persen masih dalam perjalanan.
Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan, rekayasa lalu lintas seperti sistem one way nasional kembali disiapkan bersama Kepolisian, terutama di jalur utama Trans Jawa.
“Prediksi puncak arus balik masih tinggi, sehingga rekayasa lalu lintas akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan,” jelas Rivan. (***)




