
Rasulullah SAW bersabda
“Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Silaturahmi bukan hanya formalitas, tetapi juga jalan keberkahan dalam hidup. Dengan hadir secara nyata, berbicara dari hati ke hati, dan saling mendoakan, kita memperkuat ikatan yang sebenarnya.
Era Digital: Jauh di Dekat, Dekat di Jauh
Teknologi dan media sosial memang mendekatkan yang jauh, tetapi ironisnya, justru menjauhkan yang dekat. Mungkin pernah melihat fenomena orang yang berkumpul di meja suatu ruangan dalam suatu acara kegiatan, tetapi masing-masing sibuk dengan HP-nya.
Padahal, interaksi langsung memiliki dampak psikologis yang jauh lebih mendalam dibandingkan sekadar pesan singkat atau emoji di chat.
Konsekuensi dari kecanduan digital
- Menurunnya kualitas hubungan interpersonal Interaksi yang dangkal dapat menyebabkan miskomunikasi dan kurangnya empati.
- Mengikis nilai-nilai kebersamaan
Kebiasaan lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya membuat silaturahmi terasa hanya sebagai formalitas. - Dampak psikologis negatif
Kecanduan gadget dapat menyebabkan stres, kecemasan sosial, dan bahkan depresi.
Idul Fitri: Saatnya Reconnect, Recharge, dan Reborn
Idul Fitri ini adalah saat yang tepat untuk reconnect (menghubungkan kembali hati dengan sesama), recharge (mengisi ulang energi spiritual dan emosional dengan kehangatan silaturahmi), dan reborn (memulai lembaran baru dengan hati yang bersih).
Mari kita gunakan momen ini untuk:
- Menyimpan sejenak HP dan benar-benar hadir dalam kebersamaan keluarga.
- Mengunjungi kerabat secara langsung atau setidaknya menelepon dengan penuh kehangatan.
- Memaafkan dengan tulus, bukan hanya sebagai formalitas.
- Merenungi kembali makna fitrah, yakni kembali kepada kemurnian hati dan hubungan yang harmonis.