INFONews

Rachmat Kaimuddin Dorong Hilirisasi SDA dan Penguatan ISF sebagai Platform Investasi Berkelanjutan

Indonesia memiliki keunggulan besar berupa kekayaan sumber daya alam seperti batu bara, gas alam, hingga komoditas strategis lainny

Konstruksi Media – Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar, Rachmat Kaimuddin, menegaskan pentingnya hilirisasi sumber daya alam (SDA) dan kolaborasi multipemangku kepentingan untuk mendorong investasi berkelanjutan di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Indonesia International Sustainability Forum 2026 (Road to ISF 2026) yang digelar di Jakarta, Senin (30/3/2026).

Menurut Rachmat, Indonesia memiliki keunggulan besar berupa kekayaan sumber daya alam seperti batu bara, gas alam, hingga komoditas strategis lainnya. Namun, pemanfaatannya perlu diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi bagi perekonomian nasional.

“Sebagian sumber daya memang perlu diekspor, tetapi kita juga harus memastikan adanya peningkatan nilai tambah di dalam negeri,” ujarnya.

Ia menyoroti posisi strategis Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia, yang saat ini menyumbang sekitar 50 persen produksi global. Namun, kontribusi Indonesia dalam industri hilir, seperti produksi kendaraan listrik, masih relatif kecil.

Rachmat Kaimuddin
Indonesia International Sustainability Forum 2026. (Foto: dok Kemenko Infrastruktur)

“Artinya, nikel tersebut harus diolah lebih lanjut menjadi baterai atau produk bernilai tinggi lainnya,” jelasnya.

Rachmat menegaskan bahwa arah kebijakan investasi ke depan harus berfokus pada peningkatan nilai tambah, penguatan kapasitas produksi domestik, serta pengurangan dampak lingkungan.

“Kita ingin setiap investasi memberikan dampak nyata, baik dari sisi ekonomi maupun keberlanjutan,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, ia juga menekankan pentingnya penguatan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) sebagai platform permanen yang mampu mendorong aksi nyata, bukan sekadar forum diskusi.

Baca juga: ISF 2025: Dari Forum Global Menuju Aksi Kolektif Berkelanjutan

Menurutnya, ISF perlu dikembangkan menjadi wadah kolaborasi yang lebih terstruktur melalui pembentukan kelompok kerja (working group) untuk memantau implementasi komitmen secara berkelanjutan.

“ISF harus menjadi platform yang terus berjalan dan menghasilkan aksi konkret,” katanya.

Lebih lanjut, Rachmat menyoroti pentingnya keselarasan antara kebutuhan pasar global dengan arah produksi dalam negeri, terutama dalam pengembangan produk hijau.

“Jika dunia membutuhkan kendaraan listrik atau aluminium hijau, Indonesia harus mampu memproduksinya sesuai kebutuhan pasar,” ungkapnya.

Rachmat Kaimuddin
Gelaran Indonesia International Sustainability Forum 2026. (Foto: dok Kemenko Infrastruktur)

Ia juga menekankan bahwa industrialisasi merupakan kunci dalam meningkatkan efisiensi dan nilai tambah. Pengolahan komoditas di dalam negeri dinilai dapat menekan biaya logistik sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Selain itu, transisi energi menjadi agenda penting, termasuk elektrifikasi transportasi guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak.

“Kita masih mengimpor sekitar setengah kebutuhan minyak. Elektrifikasi transportasi adalah langkah strategis yang rasional,” tambahnya.

Menutup paparannya, Rachmat menegaskan bahwa konsistensi kebijakan pembangunan harus berbasis pada pendekatan rasional, dengan mempertimbangkan potensi dan kebutuhan nasional.

“Kita harus melihat apa yang kita miliki, apa yang dibutuhkan, dan bagaimana memaksimalkan keduanya,” pungkasnya.

Kegiatan Road to ISF 2026 merupakan bagian dari rangkaian menuju forum utama yang bertujuan memperkuat kolaborasi global dalam mendorong investasi hijau dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. (***)

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

👑 Berlangganan Artikel Premium 📰 Iklan Display Produk (Majalah dan Website) 📣 Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan