Prediksi Realisasi Proyek Spektakuler Kabel Bawah Laut Australia-Singapura
Konstruksi Media – Rencana pembangunan transmisi bawah laut sepanjang 4.200 kilometer (km) yang melintas dari Darwin, Australia – Singapura melelaui Laut Timor dan perairan Indonesia dinilai menjadi proyek spektakuler. Sebab, adanya proyek tersebut akan membuat Indonesia menerima investasi mencapai USD2,58 miliar atau setara Rp36 triliun.
Perusahaan asal Australia yang melaksanakan proyek transmisi kabel bawah laut yang melintasi perairan Indonesia, Sun Cable menyebut, investasi tersebut berupa pengadaan peralatan, seperti trafo, switchgear, dan kabel darat. Jika terealisasi, proyek ini akan menjadi kabel listrik bawah laut terpanjang di dunia.
Lantas, apakah hal tersebut mudah terealisasi?
Pakar ketenagalistrikan yang juga anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2021-2025 dan Direktur Transmisi & Distrbusi PLN periode 2003-2008 Herman Darnel Ibrahim mengungkapkan, tak sedikit tantangan yang akan dihadapi untuk mewujudkan proyek spektakuler tersebut. Menurutnya, kabel listrik bawah laut High Voltage Direct Current (HVDC) terpanjang di dunia yakni North Sea Link yang menghubungkan Inggris-Norwegia dengan panjang 720 km.
- Menteri Ara Kaji Ulang Syarat Rumah Subsidi bagi Warga Berpenghasilan di Atas Rp7 Juta
- Meneropong Dinamika Resiprositas Ekonomi GlobalLesson Learned Tarif Resiprokal dan Dampaknya terhadap Mitra Dagang Dunia
- Per 3 April 2025, Hutama Karya Catatkan 122,24% Kenaikan Volume Kendaraan Lintasi JTTS
Sehingga, proyek kabel listrik bawah laut Australia-Singapura tentu dibutuhkan kerja dan investasi luar biasa. Ini mengingat kabel bawah laut Australia-Singapura memiliki ukuran enam kali lebih panjang dari North Sea Link.
Herman menjelaskan, merujuk pada kajian “Estimasi Biaya Listrik PLTS Sumba dengan Transmisi HVDC 3 GW Sumba–Paiton”, berdasarkan kajian itu jalur HVDC dari Sumba, NTT ke Paiton, Jawa Timur, untuk kapasitas listrik energi surya sebesar 3 GW dengan jarak kabel bawah laut kira-kira sepanjang 760 km, dibutuhkan biaya USD42,15 miliar atau sekitar Rp611 triliun.
“Kajian ini menjelaskan bahwa proyek transmisi bawah laut yang membentang dari Australia ke Singapura untuk mengirimkan listrik dari tenaga surya dipastikan menelan investasi yang tidak kecil,” kata Herman, Jumat, 15 Oktober 2021.
Herman menyampaikan, karakteristik kabel bawah laut itu berisiko tinggi. Menurutnya, jika misalnya rusak akibat terkena jangkar, maka tidak hanya kerugian kabel, tetapi penyediaan listrik skala besar pun akan terganggu. Selain itu, kata dia, masih banyak potensi gangguan lainnya yang perlu dipertimbangkan.
Tantangan lainnya, kata dia, konstruksi kabel bawah laut tak boleh ada sambungan. Kabel dari pabrik harus langsung dibawa dan digelar di kapal. Hal tersebut tentu bisa meningkatkan biaya investasi.
“Bagaimana kira-kira cari solusi agar kabel sepanjang 4.200 km tidak ada sambungan di dalam air? Apakah pasokan akan aman, karena itu rawan terkena jangkar, juga sabotase,” tutur Herman.
Kemudian, merujuk hasil kajiannya, diperkirakan tarif listrik PLTS yang akan dikirimkan melalui kabel bawah laut ke Singapura bisa di atas USD25 sen per kWh. Secara rinci, untuk kabel bawah laut sepanjang 4.200 km ada biaya tambahan USD14 sen per kWh. Sementara harga listrik dari PLTS sekitar USD4 sen hingga USD8 sen per kWh. Kemudian, ada pula biaya battery storage dan biaya lainnya.
“Jadi, tarif listrik tenaga surya yang dikirim dari Australia ke Singapura itu bisa mencapai USD28 sen per kWh (Sekitar Rp4.060 per kWh). Sebagai pembanding, tarif dasar listrik di Indonesia di kisaran Rp1.400 per kWh,” kata Herman.
Dia menceritakan, Malaysia pada 2008 ingin membangun kabel bawah laut untuk mengalirkan listrik dari PLTA Serawak ke Semenanjung sepanjang 800 km. Namun, setelah mempertimbangkan risiko dan biayanya, Malaysia menunda rencana tersebut.
“Kabel bawah laut bisa saja dibangun, tetapi hanya sebagai daya cadangan, bukan sebagai suplai utama,” ujar Herman.