HeadlineINFONews

Prabowo Dorong Program Gentengisasi, Ini Kelebihan dan Kekurangan Atap Genteng Tanah Liat

Konstruksi Media – Pemerintah mulai menggaungkan kembali penggunaan genteng tanah liat sebagai material atap melalui program “gentengisasi”. Inisiatif ini disebut menjadi bagian dari strategi penataan lingkungan dan penguatan sektor pariwisata, khususnya dalam menciptakan wajah kota dan kawasan wisata yang lebih tertata, berkarakter, dan selaras dengan kearifan lokal.

Namun di tengah dorongan tersebut, tren penggunaan genteng tanah liat di Indonesia justru terus menurun. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak proyek perumahan dan bangunan baru beralih ke atap metal, seng, atau baja ringan yang dinilai lebih praktis, ringan, dan efisien dari sisi biaya serta waktu pemasangan.

Padahal, genteng tanah liat sempat menjadi material atap dominan di Indonesia karena ketersediaannya yang melimpah, daya tahannya terhadap iklim tropis, serta kemampuannya menjaga suhu bangunan tetap sejuk. Pergeseran selera arsitektur ke arah modern dan minimalis membuat genteng tradisional semakin terpinggirkan, terutama di kawasan perkotaan, meski masih bertahan di bangunan bernuansa klasik dan tradisional.

Lalu, apa sebenarnya kelebihan dan kekurangan atap genteng tanah liat jika dibandingkan dengan atap logam atau seng? Berikut perbandingannya, dikutip dari Construction and Civil Engineering Magazine.

Kelebihan Atap Genteng Tanah Liat

Genteng tanah liat terbuat dari bahan alami yang dibentuk dan dibakar, sehingga memiliki karakter kuat dan tampilan klasik.

Secara keunggulan, genteng tanah liat dikenal memiliki umur pakai sangat panjang, bahkan bisa mencapai 50 hingga lebih dari 100 tahun jika diproduksi dan dirawat dengan baik. Dari sisi estetika, material ini menawarkan beragam pilihan warna, bentuk, dan lapisan glasir yang dapat disesuaikan dengan gaya arsitektur bangunan.

Selain itu, genteng tanah liat memiliki ketahanan api yang sangat baik, tidak mudah lapuk, serta tahan terhadap serangan serangga, menjadikannya pilihan aman untuk hunian jangka panjang.

Kekurangan Atap Genteng Tanah Liat

Di balik keunggulannya, genteng tanah liat memiliki bobot yang relatif berat, sehingga membutuhkan struktur rangka atap yang lebih kuat dan kokoh. Hal ini berdampak pada biaya konstruksi yang lebih tinggi.

Baca juga: Respons Wacana Gentengisasi Prabowo, Inilah Kelebihan dan Kekurangan Genteng vs Seng

Dari sisi biaya, genteng tanah liat umumnya lebih mahal dibandingkan atap modern, baik dari harga material maupun ongkos pemasangan. Selain itu, pada kondisi iklim lembap, permukaan genteng berpotensi ditumbuhi lumut atau ganggang, sementara lapisan glasirnya dapat memudar seiring waktu.

Kelebihan Atap Logam atau Seng

Atap logam seperti baja ringan, aluminium, atau seng banyak digunakan pada bangunan modern dan komersial. Material ini memiliki bobot ringan, sehingga tidak membebani struktur bangunan dan memungkinkan pemasangan yang lebih cepat.

Daya tahannya juga cukup tinggi, dengan umur pakai 40–70 tahun, serta memiliki ketahanan yang baik terhadap cuaca ekstrem dan angin kencang. Selain itu, atap logam umumnya dapat didaur ulang, sehingga berpotensi memiliki jejak lingkungan yang lebih rendah.

Kekurangan Atap Logam

Meski praktis, atap logam memiliki sejumlah kelemahan. Biaya awal bisa menjadi lebih tinggi, terutama untuk jenis logam premium atau yang menggunakan lapisan pelindung khusus. Atap logam juga cenderung berisik saat hujan deras jika tidak dilengkapi insulasi atau peredam suara.

Selain itu, terdapat risiko korosi, terutama di wilayah pesisir, serta potensi masalah akibat pemuaian dan penyusutan termal yang dapat memicu kebocoran bila sistem sambungan tidak dirancang dengan baik.

Gentengisasi dan Tantangan Implementasi

Dorongan pemerintah melalui program gentengisasi di era Presiden Prabowo Subianto membuka kembali diskursus soal pemanfaatan material lokal dan identitas arsitektur Indonesia. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada keseimbangan antara nilai estetika, daya tahan, biaya, dan kebutuhan konstruksi modern.

Tanpa insentif, inovasi desain, serta efisiensi produksi, genteng tanah liat akan tetap sulit bersaing dengan material atap modern yang menawarkan kepraktisan dan harga lebih kompetitif. (***)

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

👑 Berlangganan Artikel Premium 📰 Iklan Display Produk (Majalah dan Website) 📣 Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan