PIT HATTI 2025: Sinergi Ahli Geoteknik Menuju Indonesia Tangguh dan Berkelanjutan
PIT HATTI 2025, tekankan pentingnya inovasi dan keberlanjutan dalam rekayasa geoteknik untuk mendukung pembangunan infrastruktur nasional yang tangguh dan adaptif.
Konstruksi Media — Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) kembali menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-XXIX yang merupakan 29th Annual International Conference on Geotechnical Engineering, Indonesia Society for Geotechnical Engineering (ISGE) di Jakarta.
PIT HATTI 2025 mengangkat tema besar “Geotechnical Engineering for Sustainable Infrastructure: Driving Resilience & Innovation.” Kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi para ahli, akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan di bidang geoteknik untuk berbagi ilmu, memperkuat kolaborasi, serta mendorong penerapan inovasi berkelanjutan dalam pembangunan infrastruktur nasional.
PIT HATTI 2025 menyoroti peran penting rekayasa geoteknik dalam menghadapi tantangan era baru pembangunan, terutama di tengah isu perubahan iklim, urbanisasi cepat, dan kebutuhan akan infrastruktur yang tangguh.

Melalui forum ini, para peserta membahas berbagai pendekatan baru dalam desain, teknologi material, dan metodologi analisis tanah yang mendukung ketahanan struktur sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.
Dalam sambutannya, Ketua Umum HATTI, Prof. Widjojo A. Prakoso, mengungkapkan bahwa keberlanjutan dan inovasi merupakan dua kunci utama dalam pengembangan geoteknik modern.
“Geoteknik bukan hanya berbicara tentang kekuatan tanah, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun dengan tangguh dan berkelanjutan. Inovasi menjadi pendorong agar infrastruktur yang kita bangun tidak hanya kuat, tetapi juga adaptif terhadap perubahan zaman,” terang Prof. Widjojo, di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa, (11/11/2025).
Ia menyampaikan bahwa PIT HATTI 2025 menjadi momentum penting untuk mempertemukan para ahli lintas generasi dalam mengkaji isu-isu aktual di lapangan. Melalui diskusi panel, presentasi riset, dan sesi berbagi pengalaman proyek, kegiatan ini diharapkan dapat melahirkan solusi konkret yang dapat diimplementasikan dalam berbagai proyek pembangunan nasional.

Selain itu, kegiatan PIT HATTI 2025 juga menampilkan pameran teknologi geoteknik terkini, melibatkan perusahaan konstruksi, penyedia alat ukur tanah, serta lembaga riset nasional. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi dalam bidang teknik tanah tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus bersinergi dengan berbagai disiplin ilmu dan industri pendukung.
Prof. Widjojo berharap hasil dari pertemuan ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap arah kebijakan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Multibangun Turut Andil di PIT HATTI 2024, Berikan Solusi Geoteknik
“Kami ingin memastikan bahwa setiap proyek infrastruktur yang dibangun di negeri ini berlandaskan pada prinsip geoteknik yang kuat, inovatif, dan berkelanjutan. Karena di balik setiap bangunan kokoh, ada ilmu tanah yang menopang keberlangsungannya,” tuturnya.

Dengan semangat kolaborasi dan pembaruan ilmu, PIT HATTI ke-XXIX diharapkan menjadi tonggak baru dalam memperkuat peran geoteknik sebagai fondasi utama pembangunan infrastruktur yang tangguh, berdaya saing, dan ramah lingkungan di Indonesia.
Perkuat Kolaborasi

Sementara, dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Prof. Teuku Faisal Fathani, turut menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya PIT HATTI ke-XXIX.
Menurutnya, kegiatan ini memiliki makna strategis karena menjadi ajang penting dalam memperkuat kolaborasi antara para ahli geoteknik, akademisi, dan lembaga pemerintah dalam mewujudkan infrastruktur yang tangguh terhadap bencana dan perubahan iklim.
“BMKG sangat mendukung pelaksanaan PIT HATTI 2025 ini, karena forum seperti ini menjadi ruang penting untuk memperkuat sinergi lintas disiplin,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ketahanan infrastruktur tidak dapat dilepaskan dari pemahaman yang kuat terhadap kondisi geoteknik dan dinamika geologi wilayah Indonesia. Untuk itu, sinergi antara ahli teknik tanah dan lembaga seperti BMKG menjadi kunci untuk menciptakan sistem pembangunan yang lebih adaptif, responsif, dan berkelanjutan di masa depan.
Baca Juga :




