Konstruksi BerkelanjutanNewsProductProdukProfilPropertiTeknologi

Penelitian ITB dorong Kontraktor Kecil tekan Waste Project Konstruksi

Tanpa perbaikan sistem, kontraktor kecil ini akan terus terjebak pada margin yang tipis dan sulit berkembang.

Konstruksi Media  Produktivitas kontraktor kecil di Indonesia dinilai masih tertinggal akibat tingginya pemborosan dalam proses produksi proyek. Padahal, segmen kontraktor kecil merupakan pelaku yang paling dekat dengan kebutuhan pembangunan masyarakat, mulai dari perumahan hingga infrastruktur skala lokal.

Tanpa perbaikan sistem kerja, sektor ini akan terus terjebak pada margin keuntungan yang tipis dan sulit berkembang.

Penelitian mengenai sistem dan proses produksi kontraktor kecil dalam penerapan lean construction (konstruksi ramping) yang dilakukan oleh tim akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap bahwa persoalan utama kontraktor kecil bukan hanya soal modal atau proyek, tetapi pada cara kerja yang masih belum efisien.

Banyak proses konstruksi yang masih menyisakan aktivitas tidak bernilai tambah atau waste.

Webinar Kontaktor Kecil
Webinar Sistem & Proses Produksi Kontraktor Kecil, FTSL ITB. DOk. Konstruksi Media

Ketua Peneliti dari Kelompok Keahlian Konstruksi dan Manajemen Infrastruktur ITB, Prof. Muhamad Abduh, mengungkapkan bahwa tingginya pemborosan dalam proyek menjadi penyebab utama rendahnya profitabilitas kontraktor kecil di Indonesia.

“Isu utama lean construction adalah profitability. Selama ini kontraktor menghadapi banyak waste dalam proses pekerjaan. Jika pemborosan itu bisa dihilangkan, margin mereka bisa meningkat dan usaha mereka punya ruang untuk berkembang,” kata Prof. Abduh dalam workshop Sistem & Proses Produksi Kontraktor Kecil di ITB Kampus Jakarta, Jumat, (13/03/2026).

Ia menjelaskan bahwa banyak kontraktor kecil bekerja dengan margin yang sangat terbatas, bahkan sering kali hanya sekitar beberapa persen dari nilai proyek.

Kontraktor Kecil Sulit Berkembang

Dia menyebut dengan margin sekecil itu, perusahaan (kontraktor kecil) sulit melakukan investasi untuk pelatihan tenaga kerja, peningkatan teknologi, maupun penguatan manajemen proyek.

Padahal, menurutnya, pendekatan lean construction dapat menjadi solusi untuk memperbaiki kinerja kontraktor kecil melalui pengelolaan workflow yang lebih efisien, penerapan prinsip just-in-time, serta penghapusan aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah pada proyek.

“Kontraktor kecil sebenarnya sudah memiliki sejumlah praktik kerja yang baik di lapangan. Tantangannya adalah bagaimana praktik tersebut ditangkap, dipromosikan, lalu diarahkan agar lebih sistematis dan mendekati prinsip lean construction,” imbuh Prof. Abduh yang juga Chairman IAMKRI (Ikatan Ahli Manajemen Konstruksi Ramping Indonesia).

Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan peningkatan kapasitas kontraktor kecil, termasuk melalui pelatihan dan sertifikasi praktik kerja yang lebih efisien. Dengan sistem produksi yang lebih lean, kontraktor kecil diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas konstruksi yang dinikmati langsung oleh masyarakat.

Baca Juga : IAMKRI Dorong Penguatan Kolaborasi dalam Penyelenggaraan Proyek Konstruksi Indonesia

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

👑 Berlangganan Artikel Premium 📰 Iklan Display Produk (Majalah dan Website) 📣 Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan