Peneliti ITS Sebut Tanah Bergerak di Tegal dan Semarang Berpotensi Longsor
Tanah bergerak adalah perpindahan massa tanah atau batuan, baik secara vertikal, horizontal, maupun miring dari posisi semula.
Konstruksi Media — Fenomena tanah bergerak yang melanda Desa Padasari (Tegal) dan Kelurahan Jangli (Semarang) menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana geologi. Peneliti senior dari Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS, Dr. Amien Widodo, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari gerakan tanah yang punya risiko besar.
“Tanah bergerak adalah perpindahan massa tanah atau batuan, baik secara vertikal, horizontal, maupun miring dari posisi semula. Ini bisa berupa rayapan, aliran, maupun longsoran,” terang Amien dalam keterangannya pekan ini.
Pemicu Utama: Perubahan Tata Guna Lahan

Dosen Departemen Teknik Geofisika ITS ini menyoroti pembabatan hutan di kawasan perbukitan sebagai faktor utama. Akar pohon yang seharusnya menjadi pengikat tanah alami kini telah banyak hilang.
Amien menjelaskan bahwa retakan yang muncul di tanah menjadi jalur masuk air hujan, yang kemudian meningkatkan beban tanah dan mengurangi daya ikatnya. Kondisi inilah yang memicu pergerakan massa tanah.
Baca Juga:
DSI Raih Penghargaan Best QHSE Proyek Kataraja
Jangan Abaikan Tanda-Tanda Awal

Masyarakat diminta untuk tidak meremehkan perubahan kecil di lingkungan rumah. Amien menegaskan bahwa tanah bergerak tidak terjadi secara tiba-tiba dan memiliki tanda-tanda awal yang bisa dikenali.
“Masyarakat di kawasan rawan perlu segera melaporkan tanda-tanda tersebut kepada pihak berwenang seperti kelurahan, BPBD, Dinas PUPR, atau Dinas ESDM agar dapat segera dilakukan langkah mitigasi,” tegasnya.
Beberapa tanda yang harus diwaspadai antara lain:
- Muncul retakan di tanah atau dinding bangunan.
- Pintu dan jendela rumah mulai sulit dibuka.
- Pohon dan tiang listrik yang tampak miring dari posisi semula.
Dampak di Desa Padasari tercatat cukup masif, dengan 413 rumah rusak berat. Mengingat keselamatan warga adalah prioritas, ITS terus mendorong edukasi kebencanaan dan penguatan tata ruang berbasis risiko untuk mengurangi potensi bencana di masa mendatang.




