Konstruksi Media – Ketua Umum Asosiasi Aspal Buton Indonesia (ASPABI) Dwi Putranto meminta penggunaan Aspal dalam negeri dalam setiap pembangunan infrastruktur jalan di seluruh daerah harus lebih diprioritaskan ketimbang impor.
Pasalnya, Indonesia memiliki dua produksi Aspal yaitu pertama Aspal minyak PT Pertamina yang dibuat dari bahan dasar minyak bumi. Kedua, Aspal alam yang dikenal dengan Aspal Buton (Asbuton) merupakan merupakan salah satu material lokal yang membanggakan Indonesia.
“Asbuton memiliki cadangan material yang paling banyak di dunia. Dengan memiliki Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) mencapai 88 persen,” ungkap Dwi Putranto dalam diskusi Bussines Matcing Tahap III di JCC, (32/5/2022).

Ia menambahkan, produk aspal yang diproduksi oleh Kilang Minyak Bumi di Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) memiliki kandungan dalam negeri mencapai 27,61 persen untuk Aspal curah dan 32 persen untuk Aspal premium.
Baca Juga : WIKA Aspal Gelar Produk CPHMA WIKA ASIC Dukung Program Sumatera Selatan Bebas Lubang 2022
“Serap produk Aspal dalam negeri terlebih dahulu, baru memakai produk impor aspal,” terangnya.
Sementara, untuk aspal Buton memiliki kandungan lokal yang sangat tinggi yakni mencapai 88 persen.
“Jadi kalau ada anggaran Aspal sebanyak Rp 1 triliun, maka sekitar Rp 880 miliar itu berputar pada pelaku usaha dalam negeri, sisanya Rp120 miliar dikirim ke luar negeri, ” papar Dwi.
Ia menegaskan, konsdinya tersebut berbanding terbalik jika menggunakan aspal yang berasal dari luar negeri. Di mana, pelaku usaha dalam negeri hanya mendapatkan sebanyak 5 persen dari total anggaran pembelian Aspal impor.
“Paling parah jika pakai impor, jika ada Rp 1 triliun anggaran pembelian produk aspql, maka sekitar Rp 950 miliar dikirim ke luar negeri,” beber Dwi.
Untuk itu, ia mengajak, seluruh pemangku kepentingan terkait pembangunan infrastruktur jalan dapat menggunakan Aspal produksi dalam negeri. Dengan membeli produk Aspal tersebut, tentunya dapat membuat pelaku usaha dari mulai mikro hingga menengah yang berkaitan dengan sektor konstruksi menjadi lebih sejahtera.
Baca Artikel Selanjutnya :