INFOKorporasiNews

Merger 7 BUMN Karya Ditargetkan Tuntas Semester II 2026, Analis Nilai Saham Masih Penuh Tantangan

Restrukturisasi utang masih menjadi tantangan sehingga prospek saham konstruksi pelat merah dinilai belum sepenuhnya pulih.

Konstruksi Media – Rencana merger tujuh BUMN karya yang ditargetkan rampung pada semester II 2026 dinilai belum menjadi katalis signifikan bagi kinerja saham sektor konstruksi pelat merah dalam waktu dekat.

Sebagai informasi, Danantara menargetkan proses konsolidasi selesai pada paruh kedua 2026 setelah tahap pembersihan laporan keuangan atau impairment asset. Target ini telah mundur dua kali dari rencana awal, yakni akhir 2025 dan kuartal I 2026.

Tujuh BUMN karya yang akan dikonsolidasikan meliputi:

  • PT Waskita Karya Tbk (WSKT)
  • PT Wijaya Karya Tbk (WIKA)
  • Hutama Karya
  • PT Adhi Karya Tbk (ADHI)
  • PT PP Tbk (PTPP)
  • Brantas Abipraya
  • Nindya Karya

Corporate Secretary WIKA, Ngatemin (Emin), menyatakan perseroan saat ini fokus menjaga kinerja operasional, memperkuat tata kelola, digitalisasi, serta inovasi metode kerja guna memastikan kesiapan menghadapi proses merger.

“Kami meyakini keputusan merger telah melalui berbagai kajian, termasuk aspek keberlanjutan,” ujarnya.

Baca juga: Purbaya Terbitkan Aturan Baru Pajak Akuisisi BUMN, Termasuk Merger BUMN Karya

Namun, sejumlah analis menilai merger belum akan berdampak langsung pada harga saham tahun ini.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai merger baru akan efektif setelah fase restrukturisasi utang, perbaikan arus kas, dan perapihan portofolio proyek selesai.

“Kalau digabung sekarang, perusahaan yang relatif lebih sehat justru berisiko ikut terbebani,” ujarnya.

Menurutnya, merger akan menjadi katalis positif apabila struktur pendanaan sudah lebih ringan. Dampaknya bisa berupa efisiensi operasional, peningkatan daya tawar terhadap perbankan dan pemasok, serta peluang proyek berskala besar.

Sebaliknya, merger yang dipaksakan tanpa pembersihan neraca berisiko menggabungkan beban utang, memperketat arus kas, dan menekan valuasi saham.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyebut 2026 masih berpotensi menjadi tahun transisi dengan risiko eksekusi dan volatilitas harga saham yang tinggi.

Senada, Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menilai merger merupakan solusi jangka panjang untuk memperkuat struktur dan mengurangi tumpang tindih proyek. Namun, fase awal integrasi tetap berisiko menekan kinerja akibat biaya penyesuaian organisasi.

Di sisi lain, tantangan sektor konstruksi BUMN masih cukup besar, mulai dari refinancing utang, pembayaran proyek, margin yang ketat, hingga potensi proyek infrastruktur yang lebih selektif.

Dengan berbagai tantangan tersebut, analis belum memberikan rekomendasi saham untuk emiten BUMN karya. Tahun 2026 dinilai masih akan menjadi periode konsolidasi sebelum potensi pemulihan benar-benar terlihat. (***)

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp

HUBUNGI KAMI

👑 Berlangganan Artikel Premium 📰 Iklan Display Produk (Majalah dan Website) 📣 Liputan Khusus
Banner Kiri
Banner Kanan