Merajut Beton dan Budaya di Jalan Tol Jogja–Solo–YIA
Ini bukan sekadar proyek teknik, tetapi dialog antara teknologi modern dan nilai tradisi. Rekayasa yang baik harus berjalan seiring dengan kearifan lokal.
Konstruksi Media – Pembangunan Jalan Tol Jogja–Solo–YIA Kulon Progo sepanjang 96,57 kilometer merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikelola PT Jasamarga Jogja Solo (PT JMJ) sebagai Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).
Sejak pertengahan 2023, PT Jasa Marga (Persero) Tbk memegang kendali operasional penuh atas PT JMJ, dengan fokus terintegrasi mulai dari pendanaan, konstruksi, hingga pengoperasian dan pemeliharaan tol.
Proyek ini terbagi dalam tiga seksi utama dan sejumlah paket pekerjaan untuk memastikan efektivitas konstruksi, manajemen risiko, serta percepatan pembebasan lahan.
Tantangan utama datang dari kondisi geoteknik yang kompleks, mulai dari potensi likuifaksi, sesar aktif, hingga bentang sungai besar yang direspons melalui kombinasi flexible dan rigid pavement, perpanjangan bentang jembatan, serta penerapan teknologi Sosrobahu agar lalu lintas nasional tetap berjalan.

Menjaga Kearifan Lokal
Tak hanya aspek teknik, tol ini dibangun dengan pendekatan sosial-budaya yang kuat. Di kawasan Yogyakarta yang sarat nilai filosofis, desain infrastruktur disesuaikan agar tidak mengganggu Sumbu Filosofis Merapi–Keraton–Laut Selatan yang diakui UNESCO.
“Ini bukan sekadar proyek teknik, tetapi dialog antara teknologi modern dan nilai tradisi. Rekayasa yang baik harus berjalan seiring dengan kearifan lokal,” ungkap Staf Ahli Direksi Bidang Umum, Humas dan Administrasi PT Jasamarga Jogja-Solo (PT JMJ) Ahmad Izzi kepada Majalah Konstruksi Media di D.I. Yogyakarta.
Baca Juga : Tol Jogja-Solo Dibuka Hingga Sleman Saat Mudik Lebaran 2025, Awas Macet di Exit Tol Tamanmartani
Proses konstruksi juga melibatkan dialog budaya dengan Kesultanan Yogyakarta dan masyarakat setempat, termasuk dalam pembebasan lahan yang mengedepankan prinsip “Uang Ganti Untung”.
“Kalau hanya mengejar beton, proyek bisa cepat selesai. Tapi kalau dibangun dengan hati dan budaya, hasilnya akan bertahan dan hidup bersama masyarakat,” tuturnya.

“Kami tidak ingin membangun jalan yang hanya dilewati, tapi jalan yang menghidupkan. Jalan tol ini harus memberi ruang bagi fungsi sosial, lingkungan, dan budaya, bukan sekadar beton dan aspal,” sambungnya menambahkan.
Didukung pembiayaan sindikasi perbankan dan penerapan Building Information Modeling (BIM), tol ini ditargetkan rampung akhir 2027 dan beroperasi penuh paling lambat 2028.
Lebih dari sekadar infrastruktur, Jalan Tol Jogja–Solo–YIA Kulon Progo diproyeksikan menjadi koridor ekonomi strategis Joglosemar yang menghubungkan mobilitas, pariwisata, industri, dan kearifan budaya Jawa.
Note: Naskah ini sudah tayang di majalah Konstruksi Media Edisi XVIII/2025, untuk lebih detailnya silahkan klik link berikut…
https://anyflip.com/nwzpn/umjn/




