Konstruksi Media – Ir. Sedyatmo dikenal sebagai pelopor teknologi pondasi yang mampu mengatasi tantangan pembangunan di atas tanah lunak. Salah satu inovasinya yang paling terkenal adalah pondasi cakar ayam, yang diperkenalkan pada 1962 dan kini banyak digunakan di Indonesia maupun luar negeri. Sistem ini menjadi terobosan karena memungkinkan pembangunan di lahan lembek dengan stabil, efisien, dan lebih cepat dibanding metode konvensional.
Pondasi cakar ayam awalnya diterapkan pada apron Pangkalan Udara TNI AL Juanda, Surabaya, lalu di Bandara Polonia Medan serta Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Keunggulannya tidak hanya pada kemampuan menopang bangunan di tanah lembek, tetapi juga tahan terhadap genangan air dan banjir. Sistem ini dapat digunakan pada tanah dengan daya dukung rendah maupun tinggi, dan mampu menahan beban kendaraan berat termasuk truk dan trailer.
Keberhasilan teknologi ini menarik perhatian dunia. Paten pondasi cakar ayam tercatat di banyak negara, termasuk Amerika Serikat, Perancis, Italia, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman, Denmark, dan Brasil.
Gagasan pondasi ini lahir dari pengalaman Sedyatmo saat menjadi Direktur Konstruksi PLN, membangun jaringan listrik dari Ancol untuk proyek Asian Games. Tantangan terbesar adalah menegakkan tiang listrik di tanah lembek dengan lapisan keras paling kuat berada 25 meter di bawah permukaan. Terinspirasi dari akar pohon yang kokoh menahan angin, ia merancang pondasi berupa pipa beton panjang yang ditanam di tanah, dihubungkan pelat beton dan pengikat baja. Sistem ini terbukti stabil dan kemudian dikembangkan untuk jalan raya, pondasi tiang listrik bertegangan tinggi, bahkan konstruksi di bawah air atau bekas empang ikan.
Biaya pembangunan pondasi cakar ayam tidak lebih mahal dibanding proyek jalan raya berskala besar, namun menawarkan ketahanan dan efisiensi yang luar biasa. Atas kontribusinya, Sedyatmo dianugerahi Bintang Mahaputra Kelas I pada 1984. Ia wafat pada 15 Juli 1984, meninggalkan warisan teknologi yang dikenal luas sebagai solusi cerdas di bidang konstruksi. Julukan “Si Kancil” melekat padanya karena kecerdikannya menemukan solusi teknis yang inovatif. (***)
