Lean Construction di India Bergerak dari Industri, Bukan Regulasi Pemerintah
ILCC 2025 memaparkan Lean Construction di India bergerak bukan berdasarkan regulasi pemerintah tetapi sektor swasta.
Konstruksi Media – Hari kedua Indian Lean Construction Conference (ILCC) 2025 menjadi panggung bagi para pelaku industri konstruksi raksasa India untuk memaparkan pengalaman mereka dalam implementasi Lean Construction (LC).
Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Prof. Muhammad Abduh, M.T., Ph.D., yang hadir dalam acara tersebut, menyoroti bahwa adopsi LC di negara tersebut didorong kuat oleh sektor swasta.
Acara yang dibuka dengan keynote address oleh Menteri Municipal Administration and Urban Development, Mr. Ponguru Narayana, ini menampilkan presentasi dari early adopters LC di India, seperti Godrej Construction, Larsen & Toubro (L&T), Kalpataru Projects International Limited, dan KPMG India.
Baca Juga:
ILCC 2025 Bahas Tuntas 7 Working Group untuk Terapkan Lean Construction
Private Company Mengadopsi Lean Construction
Prof. Abduh mencatat bahwa perusahaan-perusahaan besar ini bukan BUMN, melainkan private company yang secara sukarela menjadi pengadopsi awal LC.
“Catatan penting di sini, bahwa semua perusahaan tersebut bukan BUMN, tetapi private company besar di India, yang menjadi early adopter dari LC di India secara voluntary,” ujar Prof. Muhammad Abduh.
Selain itu, ia menambahkan bahwa kehadiran Menteri terkait pengembangan menunjukkan dukungan pemerintah, meskipun adopsi LC di India tidak diatur dalam bentuk kebijakan wajib.
“Ini menunjukkan bahwa LC di India adalah industry-driven,” tegasnya.
Dalam sesi presentasi, L&T membahas topik Mechanization and Automation in Construction, sebagai jawaban atas kekurangan pekerja terampil dan kebutuhan percepatan proyek konstruksi.
L&T memposisikan mekanisasi untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja terampil, sementara otomatisasi ditujukan untuk meningkatkan kecepatan kerja.
Sementara itu, Kalpataru Projects International Limited memaparkan keberhasilan dalam Reducing Slab Cycle in Residential Buildings. Prof. Abduh menemukan pendekatan ini sangat menarik.
“Sangat menarik bahwa semua hal bisa dicari kemungkinan perbaikan dengan menggunakan pendekatan LC,” komentar Prof. Abduh mengenai presentasi Kalpataru.
Baca Juga:
Hutama Karya Rampungkan Topping Off RS R.D. Kandou Manado Lebih Cepat
Memahami Quality dan Lean Secara Holistik
Selain itu, Marton Marosszeky dari Australia kembali menegaskan pentingnya memandang Quality dan Lean secara holistik, di mana Lean memberikan nilai tambah melalui inovasi berkelanjutan, sementara Quality memberikan jaminan (assurance).
Sesi diskusi panel juga membahas penerapan LC di India, tantangan, dan peluang digitalisasi melalui BIM, AI, dan perangkat digital lainnya. Prof. Abduh menyimpulkan, meskipun penerapannya masih di tahap awal, early adopters di India sudah menunjukkan kreasi dan inovasi.
“Mengikuti kedua kegiatan diskusi panel ini, tentu saja LC dan juga penggunaan digitalisasi di India masih pada taraf awal, tetapi yang jelas para early adopters sudah banyak dan berkreasi dan berinovasi dalam penerapannya, dengan harapan satu saat sudah akan mature,” tutupnya.



