Konstruksi Media – Sektor infrastruktur digital global diprediksi memasuki fase supercycle investasi. Berdasarkan laporan Global Data Center Outlook 2026 terbaru dari JLL, kapasitas data center dunia diperkirakan melonjak hampir dua kali lipat, dari 103 Gigawatt (GW) saat ini menjadi 200 GW pada tahun 2030.
Lonjakan ini didorong oleh pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (AI), yang diperkirakan akan memakan porsi hingga 50% dari total kapasitas global pada akhir dekade ini. Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, dibutuhkan total investasi hingga USD 3 triliun (sekitar Rp46.800 triliun) dalam lima tahun ke depan.
Potensi Besar di Pasar Indonesia
Tren ekspansi global ini tercermin kuat di Indonesia. Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah, mengungkapkan bahwa investor kini semakin aktif melakukan diversifikasi ke sektor alternatif, di mana data center muncul sebagai segmen paling menarik bersama logistik dan kesehatan.
Baca Juga:
Bidik Peringkat 300 Dunia, ITS Gelontorkan Rp83 Miliar untuk Hibah Riset Strategis
“Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memproyeksikan industri data center Indonesia tumbuh 14% per tahun hingga 2028. Hal ini menegaskan kuatnya fundamental jangka panjang sektor ini di tanah air,” ujar Farazia dalam keterangan resminya, Rabu (14/1/2026).
Di Indonesia, wilayah Cikarang dan Karawang menjadi primadona bagi pengembang hyperscaler karena kesiapan kawasan industri dan akses listrik mandiri. Sementara itu, Batam mulai menonjol sebagai calon hub regional yang strategis.

AI Sebagai Penggerak Utama
JLL mencatat titik krusial akan terjadi pada 2027, saat kebutuhan AI inference melampaui fase training. Fasilitas khusus AI ini membutuhkan kepadatan daya hingga 10 kali lebih besar dibanding pusat data konvensional, namun mampu menghasilkan tarif sewa hingga 60% lebih tinggi.
“Kami tengah menyaksikan transformasi infrastruktur paling signifikan sejak migrasi cloud pertama kali terjadi,” ujar Matt Landek, Global Division President Data Centers JLL. Ia menambahkan bahwa para pemain besar (hyperscaler) mengalokasikan hingga USD 1 triliun hanya untuk belanja data center pada periode 2024–2026.
Baca Juga:
Dukung Hunian Tahan Gempa, Krakatau Steel Pasok 2.685 Ton Baja untuk Tower Creativo Bintaro
Meski permintaan membeludak, industri menghadapi tantangan besar berupa keterbatasan pasokan listrik. Rata-rata waktu tunggu koneksi jaringan listrik di pasar utama kini melebihi empat tahun. Kondisi ini memaksa beberapa operator untuk mendanai pembangkit energi mereka sendiri atau menggunakan strategi Bring Your Own Power (BYOP).
Namun, JLL memastikan sektor ini tetap sehat dan jauh dari risiko gelembung (bubble). Indikatornya terlihat dari tingkat okupansi global yang mencapai 97%, serta fakta bahwa 77% dari proyek yang masih dalam tahap konstruksi sudah memiliki komitmen penyewa (pre-commitment).




