Konstruksi Media – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) resmi memperkenalkan strategi transformasi terbaru bertajuk KRAS Reborn. Melalui inisiatif ini, perseroan menetapkan visi ambisius dengan target pendapatan konsolidasi sebesar USD 1,6 miliar atau setara Rp26,97 triliun (kurs Rp16.860/USD) pada tahun 2026.
Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menegaskan bahwa KRAS Reborn merupakan langkah visioner untuk mengubah volatilitas global dan disrupsi teknologi menjadi peluang pertumbuhan berkelanjutan. Strategi ini menandai transisi perusahaan dari fase bertahan menjadi pemimpin industri baja yang tangguh.
“Krakatau Steel tidak pernah kehilangan kekuatannya. Hari ini, kita membangkitkan kesadaran kolektif atas kapabilitas besar yang selama ini terpendam untuk menjadi National Pride with Global Standards,” ujar Akbar Djohan, Selasa (10/03/2026).
Strategi KRAS Reborn mengedepankan sinergi antara resilient mindset dan execution excellence. Direktur SDM Krakatau Steel, Suryantoro Waluyo, menjelaskan bahwa esensi transformasi ini adalah intervensi energi organisasi yang menyeluruh.
Fokus perusahaan kini beralih pada pembentukan business-driven people melalui penyelarasan budaya kerja dan ketangguhan mental. Setiap individu dipacu untuk memiliki sense of awareness, belonging, dan urgency guna berkontribusi langsung pada profitabilitas perusahaan.
Baca juga: Perjalanan Baja Modular Krakatau Steel Melengkapi Infrastruktur Fasilitas Publik
Selain transformasi internal, Krakatau Steel berkomitmen memperkuat posisi Kawasan Industri Krakatau (KIK) sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah ini mencakup transformasi kawasan menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) guna menangkap peluang investasi global.
Dalam gelaran Krakatau Industrial Business Gathering 2026, Akbar Djohan menekankan pentingnya kolaborasi untuk membangun kawasan industri yang kompetitif.
“Kami memberikan pelayanan cepat, transparan, dan kemudahan investasi bagi tenant serta investor. Konektivitas logistik yang efisien dan prinsip keberlanjutan adalah syarat mutlak menarik minat global,” tambahnya.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Sandiaga Salahuddin Uno, yang memberikan pandangan strategis mengenai arah kebijakan ekonomi. Ia menekankan bahwa dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid di atas 5%, kawasan industri menjadi mesin utama penggerak PDB dan ekspor nonmigas.
“Masa depan kawasan industri terletak pada integrasi konsep Special Economic Zone (SEZ) dan Green Economy. Ini bukan saatnya untuk wait and see, melainkan momen tepat menjadi first mover dalam berinvestasi di ekosistem yang berkelanjutan,” pungkas Sandiaga. (***)




