
Konstruksi Media – Empat emiten besar sektor konstruksi merilis capaian nilai kontrak baru hingga paruh akhir 2025, sekaligus memberikan gambaran awal arah bisnis mereka pada 2026. Data ini dihimpun dari PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), PT PP Construction & Investment Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).
Kinerja keempat perusahaan tersebut menunjukkan kondisi yang beragam. Sebagian emiten berhasil melampaui target internal, sementara lainnya masih menghadapi tantangan untuk memenuhi target tahun berjalan.
TOTL Melampaui Target
TOTL menjadi salah satu pemain dengan kinerja paling solid. Hingga pertengahan November 2025, perseroan mengoleksi kontrak baru senilai Rp5,27 triliun. Capaian ini bukan hanya melampaui realisasi tahun sebelumnya, tetapi juga sudah melewati target internal 2025 yang dipatok Rp5 triliun. Dengan posisi tersebut, TOTL memasuki akhir tahun dengan pijakan yang lebih kuat.
ADHI Masih Tertekan
Berbanding terbalik, ADHI mencatat kontrak baru sebesar Rp14,1 triliun hingga November 2025. Meski nominalnya besar, kinerja tersebut masih terkontraksi 7% secara tahunan. Realisasi itu baru memenuhi sekitar setengah dari target 2025 yang berada di rentang Rp25–28 triliun, sehingga ADHI masih memiliki pekerjaan besar untuk mengejar ketertinggalan di sisa tahun.
WIKA dan PTPP Tekan Gas Menjelang Tutup Tahun
Dua emiten lainnya baru merilis data kontrak hingga kuartal III/2025.
• WIKA mencatat kontrak baru Rp6,19 triliun, merosot sekitar 60% YoY. Realisasi tersebut baru mencapai 36% dari target tahunan Rp17 triliun, mencerminkan tekanan berat terhadap pipeline proyek mereka.
• PTPP mengantongi Rp16,88 triliun, turun 18,8% YoY, namun masih relatif lebih baik karena sudah mencapai 59% dari target Rp28,5 triliun.
Arah Bisnis 2026: Konservatif hingga Agresif
Memasuki 2026, masing-masing emiten mengambil sikap berbeda dalam menentukan target pertumbuhan:
• TOTL memilih langkah konservatif dengan mempertahankan target kontrak baru di Rp5 triliun, sama seperti tahun ini. Namun dari sisi pendapatan, perseroan menargetkan pertumbuhan moderat 2% menjadi Rp3,8 triliun.
• WIKA justru mengambil posisi agresif. Perusahaan membidik kontrak baru minimal Rp20 triliun pada 2026, atau naik sekitar 18% dari target 2025. Langkah ini menjadi sinyal upaya pemulihan setelah tekanan signifikan tahun ini.
• ADHI mengambil pendekatan lebih hati-hati. Target kontrak baru 2026 ditetapkan Rp23,8 triliun, berpotensi turun 5–15% dibandingkan target 2025. Penyesuaian ini mencerminkan kewaspadaan manajemen terhadap kondisi pasar konstruksi yang masih menantang.
Dengan performa yang beragam namun strategi yang mulai disiapkan secara matang, keempat raksasa konstruksi ini bersiap menghadapi 2026 sebagai tahun konsolidasi sekaligus peluang untuk memperkuat fundamental bisnis mereka. (***)



