Konstruksi Penyumbang Terbesar Kecelakaan Kerja di Indonesia
KONSTRUKSI MEDIA – Sektor industri konstruksi masih menjadi penyumbang terbesar kasus kecelakaan kerja di Indonesia. Setiap tahunnya, sektor konstruksi menyumbang 32% dari total kasus kecelakaan kerja di Indonesia.
Di posisi dua, sektor industri manufaktur menyumbang 31,6% kasus kecelakaan kerja di Indonesia. Disusul Transportasi (5,3%), Kehutanan (3,8%), dan Pertambangan (2,6%).
Demikian diungkap Ketua Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan (K3L) Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Dr (cand) Ir Desiderius Viby Indrayana, ST, MM, MT, IPU, ASEAN Eng pada webinar bertajuk Indonesian Safety & Quality Engineer Outlook 2022 yang diselenggarakan Komite K3L PII secara daring, Sabtu (5/2/2022), yang mengutip data dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan BPJamsostek.
Pada webinar yang dihadiri 444 peserta dan dimoderatori Ketua Umum Perkumpulan Ahli Keselamatan Konstruksi Indonesia (PAKKI) Lazuardi Nurdin ini, pria yang akrab disapa Viby ini mengungkapkan bahwa fakta ini tidak hanya terjadi di Indonesia.
Mengutip data dari Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika (US Bureau of Labor Statistic) tahun 2020 Viby mengatakan bahwa konstruksi menempati peringkat teratas sebagai sektor industri yang mengakibatkan kecelakaan kerja fatal bagi para pekerja.
Begitu pula di Jepang dimana konstruksi menyumbang 32% angka kecelakaan kerja fatal yang terjadi di 2020. Sementara China, tercatat sebagai negara tertinggi di dunia dengan kasus kecelakaan kerja yang terjadi di sektor konstruksi dengan menorehkan angka 34%.
“Hal yang menarik, sektor industri pertambangan yang dulu acap disebut sebagai sektor industri paling berisiko di Indonesia dan banyak menimbulkan kecelakaan kerja fatal, justru mengalami penurunan sangat signifikan yang berada di angka 2,6%,” kata pria yang kini tengah menjalani PPRA Lemhanas RI.

Viby lalu mengajak insan PII untuk sama-sama bergandengan tangan agar kasus-kasus kecelakaan kerja di sektor konstruksi bisa ditekan ke titik serendah mungkin seperti halnya prestasi yang dicapai sektor pertambangan.
Diakui Viby, hal ini memang bukan perkara mudah mengingat budaya keselamatan di sektor konstruksi Indonesia yang masih rendah. Mengutip hasil riset dan penelitian yang dilakukan Machfudiyanto dkk pada 2018, Viby mengatakan bahwa kematangan (maturity) budaya keselamatan di Indonesia masih berada di level Reaktif. “Kita akan baru bereaksi ketika kecelakaan kerja terjadi dan menimbulkan korban. Level budaya safety kita masih di sini, reaktif,” katanya.
Masih merujuk hasil riset dan penelitian yang dilakukan Machfudiyanto dkk, aspek kepemimpinan merupakan faktor penentu keberhasilan penerapan keselamatan di Indonesia. Angkanya mencapai 30,6%.
Baca juga: Bisakah IKN Jadi Gravitasi Baru Perekonomian Indonesia?
Guna meningkatkan budaya keselamatan (safety culture), khususnya sektor konstruksi, Viby membuat kerangka kinerja keselamatan. “Untuk meningkatkan budaya keselamatan, maka pembenahan harus dilakukan dalam aspek kepemimpinan. Safety leadership menjadi faktor utama terciptanya budaya keselamatan (safety culture). Jika budaya keselamatan sudah tercipta, maka akan terbentuk kinerja keselamatan (safety performance),” Viby membeberkan.
Untuk itu, Viby yang kini tengah merampungkan program studi Doktoral di ITB ini mengajak kaum insinyur yang tergabung dalam Persatuan Insinyur Indonesia (PII) untuk selalu menerapkan profesionalitasnya dalam beraktivitas. Hal ini meliputi perilaku profesional dimana salah satu elemennya adalah kepemimpinan.
Viby kembali mengingatkan bahwa sikap mengutamakan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat merupakan nomor satu dalam Sapta Dharma (tujuh tuntutan sikap) Insinyur Indonesia. (Hasanuddin)
Baca artikel selanjutnya: