Jalan

Konstruksi Kereta Cepat Jakarta-Bandung Gunakan Standar Mutu C

Konstruksi Media – Presiden Direktur PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), Dwiyana Slamet Riyadi memastikan, konstruksi beton pada proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung menggunakan kualitas nomor satu.

Menurutnya, beton-beton yang menopang lintasan KCJB tersebut dibangun dengan material khusus dan standar pengawasan mutu yang tinggi.

“Sebagai bagian dari kemajuan peradaban transportasi di Indonesia. Proyek KCJC dibangun pakai material nomor satu dan setiap prosesnya dikontrol dengan standar pengendalian mutu yang tinggi,” ujar Dwiyana pada laman resmi KCIC, dikutip Kamis (23/12/2021).

Dalam hal ini, katanya, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung memakai standar mutu beton kelas C. Berbeda dengan proyek lainnya, yang didominasi memakai standar mutu K dan FC (Mpa) yang umum digunakan di Indonesia.

Pada dasarnya, Dwiyana menjelaskan ketiga standar mutu tersebut mampu menghasilkan kekuatan tekan pada beton yang baik.

“Hanya saja, standar mutu C yang dipakai KCJB memiliki kelebihan yang cukup spesifik, terutama pada durability environment. Standar mutu C disebut memiliki keunggulan dalam hal spesifikasi Additive beton yang lebih menyesuaikan kondisi lingkungan,” katanya.

Dia menegaskan, additive beton pada proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung ini lebih menyesuaikan kondisi lingkungan, sehingga lebih unggul pada durability environment.

Lebih lanjut, Dwiyana menekankan kalau seluruh konstruksi KCJB sudah memenuhi syarat untuk menjadi menggunakan High Performance Concrete (HPC).

Adapun persyaratan tersebut antara lain harus memiliki kekuatan pada 4 jam lebih sama dengan 17,5 Mpa, pada 24 jam lebih sama dengan 35 Mpa, pada 28 hari lebih sama dengan 70 Mpa, faktor durabilitas lebih sama dengan 80% setelah 300 hari siklus pembekuan dan pencairan, serta faktor air semen kurang sama dengan 0,35.

“Konstruksi beton KCJB memenuhi persyaratan kinerja sebagai High Performance Concrete. Beton sudah melewati berbagai uji kekuatan dan kualitas secara berkala. Material yang dipakai juga diseleksi secara ketat,” papar Dwiyana.

Tak cukup sampai di situ, Dwiyana menjabarkan kalau perbedaan dasar lainnya antara beton yang dipakai pada proyek KCJB dan konstruksi lainnya di Indonesia terletak pada concrete mix ratio.

Ia menyebut kalau KCJB memiliki beton yang dibuat menggunakan lebih banyak fly ash untuk menghasilkan durabilitas yang lebih baik.

“Fly ash yang dipakai sebagai campuran beton KCJB itu lebih banyak. Cukup berbeda dengan konstruksi lain. Hasilnya kekuatan beton pun semakin baik,” paparnya.

Selain itu, Beton berstandar tinggi yang dipakai pada lintasan KCJB juga dihasilkan dari pasir Tayan yang dikenal dengan tingkat kemurnian tinggi sebagian bagian dari komposisi beton.

“Pasir yang dipakai untuk KCJB diseleksi dengan ketat dan pasir Tayan yang didatangkan dari Pontianak pun dipilih karena kemurniannya sangat bagus soalnya berasal dari sungai yang minim pencemaran kimia,” Papar Dwiyana.

Lebih detail lagi, Dwiyana mengatakan kalau batching plant untuk KCJB berbeda dengan yang lainnya di Indonesia. Seluruh material untuk mainline ditempatkan di area yang terhindar langsung dari hujan dan terik matahari. Dengan cara seperti ini, Dwiyana menegaskan kalau kualitas material akan tetap terjaga dengan lebih baik lagi.

Pemilihan baja pada beton KCJB juga diakui melalui proses seleksi yang sangat ketat. Sampai akhirnya, proyek KCJB memilih menggunakan baja karbon dengan spesifikasi HRB.

Dwiyana mengatakan kalau baja tersebut memiliki tingkat kekerasan yang tinggi dan telah teruji mampu menahan beban indentasi atau penetrasi. Spesifikasi ini dianggap paling cocok untuk lintasan kereta yang melaju hingga 350 km/jam.

“KCJB nanti bisa melaju sampai 350 km/jam. Jadi butuh baja yang tingkat
kekerasannya tinggi dan sudah teruji mampu menahan indentasi dan penetrasi. Jadi penyeleksian baja untuk beton KCJB harus sangat ketat. Tentu saja akhirnya kita pakai yang terbaik, yaitu baja karbon dengan spesifikasi HRB,” tuturnya.***

Artikel Terkait

Back to top button
Chat WhatsApp