Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Rumah Huntara Sangat Diperlukan
Oleh: Pakar Gempa Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. Ir. Abdullah, M.Sc.,
Konstruksi Media — Sudah lebih sebulan pasca banjir bandang yang melanda utara Pulau Sumatera, teriakan ketidaksanggupan, keluhan lambannya penanganan, terutama penyediaan tempat tinggal yang nyaman bagi pengungsi masih menjadi berita berbagai media sosial dan media online.
Kendala di lapangan, terutama di lokasi banjir yang meninggalkan lumpur bahkan ada yang mencapai lebih dari 2 meter, dapat terlihat dengan jelas, kasat mata.
Kehilangan mata pencaharian karena lahannya tertutupi lumpur, begitu juga dengan rusak dan hancurnya harta benda semakin mendera korban dan keluarga mereka, sehingga makin memperlambat untuk segera memulai kehidupan baru pasca banjir. Tanpa dukungan dari pihak lain, terutama dari Pemerintah, sepertinya akan sangat sulit untuk para penyintas dapat kembali menjalani kehidupan normal seperti sebelumnya.
Meskipun sebagian masih memiliki rumah karena selamat dari ganas arus banjir yang dipenuhi limbah padat terbawa bersama air bandang, tetapi mereka tidak memiliki dana lagi untuk membersihkan lumpur yang masih tersisa.

Kondisi rumah yang diperlihatkan pada gambar tersebut mewakili lebih dari 50% populasi rumah didaerah yang relatif parah tinggi banjirnya, yang penulis kunjungi pada 26 Desember 2025 minggu lalu. Pilihan yang ada adalah menunggu bantuan.
Sepertinya derita korban banjir di sejumlah lokasi di Aceh masih akan lama. Cuaca yang masih belum bersahabat, curah hujan yang masih cukup tinggi dan lingkungan yang belum terkoreksi, mengakibatkan hazard banjir, berupa banjir susulan, masih terus menjadi ancaman.
Kondisi ini kemungkinan akan terus berlanjut sampai Januari 2026 karena musim hujan baru saja dimulai di akhir November 2025, dan Selanjutnya akan berlanjut sampai Maret. Selanjutnya pun, puncaknya ada di akhir Desember atau awal Januari.
Sementara itu, pembangunan Rumah Hunian Sementara (Huntara) mungkin baru akan dimulai ditengah kecilnya biaya yang disediakan dan sulitnya bahan yang diperlukan. Kondisi ini menjadi lebih rumit karena lokasi dan korban banjir Sumatra di Provinsi Aceh sangat luas, tersebar di sejumlah Kabupaten/Kota, terputusnya jalur transportasi. Diperparah lagi, Aceh masih sangat menggantung diri kepada Medan dalam pengadaan bahan konstruksi.
Ramadhan yang didepan mata, mestinya korban dan keluarga mereka sudah menempati rumah Huntara yang nyaman dan bebas was-was banjir susulan. Karenanya, keputusan dalam mempercepat dan memperlancar pembangunan, terutama HUNTARA, mestilah dipercepat.
Tentu, Keputusan yang cepat perlu juga didukung dengan perencanaan, dana yang cukup, dan metode konstruksi yang efisien dan tepat.
Dalam hal ini, percepatan pengadaan rumah Huntara untuk korban yang rentan terhadap ancaman banjir susulan harus diawali dengan kepastian Lokasi. Syukur-syukur kalau Lokasi rumah Huntara yang akan dibangun ini sudah memiliki jalan akses yang baik, dan berdekatan dengan infrastruktur pendukung: pasar, sekolah, fasilitas Kesehatan, dan lain-lain.
Setelah lokasi tempat pembangunan rumah Huntara ditetapkan, langkah selanjutnya adalah penyediaan/pembangunannya. Minimnya dana yang disediakan untuk penyediaan rumah Huntara ini mestinya tidak berakibat berlarut untuk diputuskan. Solusi alternatif perlu segera dibahas dan ditetapkan, sehingga upaya mempercepat kembalinya korban ke kondisi yang aman dan normal berprogres.
Mengingat kondisi korban yang beragam, penentuan model rumah huntara ini akan menjadi dinamika tersendiri. Barangkali, ini bisa diantisipasi dengan menawarkan beberapa alternatif. Tentu harus dipastikan bahwa tujuan utamanya adalah memastikan korban dan keluarga mereka dapat segera melupakan kesedihan dan terkurangi penderitaan yang sudah mereka alami beberapa minggu terakhir ini.
Harapan kita adalah saat melaksanakan ibadah Ramadhan, dan saat merayakan hari kemenangan, Idul Fitri, nanti saudara-saudara kita sudah menempati, sekurang-kurangnya rumah Huntara yang nyaman.
Disini, selain konsep rumah tetap permanen yang ramah gempa, kami menawarkan beberapa pemikiran terkait metode pembangunan rumah Huntara agar dapat sesegera mungkin dimulai, efisien, dan optimal sampai menjadi rumah Huntap.
Pertama, Pemda perlu memastikan segera Lokasi Huntara yang sekaligus akan menjadi kawasan lokasi Huntap. Tentu persyaratan Huntap perlu diperhatikan, seperti disebutkan diatas: akses jalannya tersedia dan kondisinya baik, tersedia atau tidak terlalu jauh dari fasilitas pasar, sekolah, tempat ibadah, dan fasilitas kesehatan.
Tentu saja lokasi tersebut bebas banjir, sebagai syarat utama. Berdekatan dengan tempat tinggal / rumah asal menjadi pilihan bonus, agar kesempatan membersihkan rumah dari lumpur banjir lebih mudah, dan dekat untuk menggarap kembali kebun dan sawah setelah dibersihkan.
Kedua, pembangunan rumah Huntara dan Huntap akan dilakukan secara berurutan. Maksudnya, tahap pertama rumah Huntara akan dibangun terlebih dahulu, misalnya seluas 24 m2 agar keluarga korban dapat sesegera mungkin pindah / menempati.
Ketiga, setelah rumah Huntara selesai dan sudah ditempati, tambahan luasan/kamar rumah dilakukan untuk terpenuhi luasan 36 m2, yakni rumah dengan 2 kamar dapat dilanjutkan. Penambahan luasan dari 21 m2 ke 36 m2, dan jika memungkinkan ke 45 m2 dapat dilakukan secara bertahap.

Penyediaan rumah 3 kamar untuk warga Aceh tentu sangat diharapkan terutama untuk korban yang memiliki anak putra dan putri. Sebagai daerah yang memberlakukan Hukum Syariah dalam kesehariannya, tentu memiliki kamar terpisah /berbeda untuk mereka yang mempunyai anak lelaki dan perempuan akan menjadi suatu keharusan, sebenarnya.
Metode Tahapan Konstruksi HUNTARA ke HUNTAP
Dengan metode 2 tahap ini, kualitas, bisa juga luasan rumah, dapat disediakan lebih baik atau lebih luas (tipe 45m2 – tiga kamar) karena dana rumah Huntara akan/dapat digabung dengan dana rumah Huntap, sehingga akan, mudah-mudahan, cukup leluasa. Luasan dan kualitas finishing yang lebih baik lagi akan lebih memungkinkan didapat jika rumah Huntara dan Huntap ini dijadikan couple. Tentu, pilihan mendapatkan rumah Huntap 45 m2 dan konstruksi couple akan dimungkinkan jika saja lahan yang tersedia cukup.
Bahan dan metode konstruksi rumah Huntara dan rumah Huntap ini banyak alternatifnya. Selama ini, beberapa model dan bahan konstruksi sudah pernah dibangun, salah satunya dengan panel beton ringan pracetak yang penulis kembangkan sejak tahun 2010.
Satu unit sudah terbangun tahun 2011 di Banda Aceh, dan 4 unit di Pidie Jaya pasca gempa 2016. Atas izin-Nya rumah-rumah tersebut masih bertahan terhadap hazard lain, gempa yang juga kerap kita alami di Aceh, dan Sumatera. Kami juga mengembangkan model Hybrid untuk menyesuaikan Budget, kekuatan dan kualitas serta percepatan pemasangan.
Pilihan metode dan bahan konstruksi yang cepat dan memungkinkan dilakukan penyesuaian bongkar-pasang yang minimal kerusakan menjadi yang paling krusial agar tidak ada bahan yang terbuang. Salah satu syaratnya adalah menggunakan bahan yang mudah diproduksi dan tersedia di pasar lokal, mudah dalam mobilisasi karena kondisi lapangan yang tidak memungkinkan dilakukan dengan alat berat, serta teknologinya mudah.
Siapapun perencana rumah Huntara, utamanya, dan rumah Huntap haruslah mempertimbangkan kondisi dan kesulitan yang akan dihadapi saat proses Pembangunan dilaksanakan.
Baca Juga :
Huntara dan Huntap Korban Banjir Aceh Ditargetkan Rampung Awal 2026, Disiapkan di Sejumlah Kabupaten




