Kisah Arie Haryanto Bangun PT Citra Galvanizing Indonesia: Ilmu dan Pengalaman Tak Pernah Sia-sia
Arie sempat bercita-cita menjadi pemain bola profesional sebelum terjun ke dunia teknik mesin.
Konstruksi Media – Industri baja dan konstruksi nasional memiliki tokoh-tokoh tangguh yang membangun karier dari bawah. Salah satunya adalah Arie Haryanto, Presiden Direktur PT Citra Galvanizing Indonesia, yang telah berkecimpung di dunia industri selama puluhan tahun.
Baginya, perjalanan panjang dari lantai produksi hingga kursi kepemimpinan membuktikan satu prinsip: ilmu dan pengalaman tidak pernah sia-sia.
Mengawali karier pada tahun 1969 di Medan, Arie sempat bercita-cita menjadi pemain bola profesional sebelum akhirnya terjun ke dunia teknik mesin.
Perjalanan kariernya membentang dari menjadi teknisi di pabrik tekstil, bekerja di perusahaan baja ringan joint operation Indonesia-Jepang, hingga dipercaya menjadi manajer pabrik di berbagai perusahaan besar seperti Bakrie Armco dan perusahaan multinasional asal Denmark.
“Saya selalu percaya, ilmu dan pengalaman tidak pernah sia-sia. Saya tidak pernah enggan turun ke lapangan, dari mengelas, bongkar mesin, sampai diskusi strategi, semua pernah saya jalani,” ujar Arie kepada Konstruksi Media beberapa waktu lalu.
Baca Juga:
Dukung Pembangunan Cepat, Krakatau Baja Konstruksi Rampungkan Proyek Modular di Tapanuli Selatan
Menghadapi Tantangan Ekonomi
Karier Arie tidak selalu mulus. Ia sempat mengalami masa sulit pada krisis ekonomi 1998 yang memaksanya berhenti bekerja. Namun, ketekunannya membuahkan hasil saat ia direkrut oleh perusahaan internasional Galvanizing Australia (IGC) pada 1999 sebagai Presiden Direktur, memimpin tenaga ahli asing untuk pasar Indonesia.
Keberhasilan tersebut menjadi modal kuat bagi Arie untuk mendirikan PT Citra Galvanizing Indonesia pada tahun 2009. Kini, di usia 76 tahun, Arie masih aktif mengendalikan usaha yang telah beroperasi selama 16 tahun tersebut.
Mendorong Nasionalisme Konstruksi
Selain fokus pada bisnis, Arie dikenal vokal dalam menyuarakan penggunaan produk dalam negeri. Ia menekankan pentingnya perlindungan material baja melalui proses Hot Dip Galvanizing (HDG) untuk menjamin ketahanan infrastruktur jangka panjang.
Ia mengkritik ketergantungan pada impor jika industri lokal sebenarnya sudah mampu memenuhi spesifikasi teknis.
“Daya saing industri nasional harus dibangun melalui profesionalisme, konsistensi pengiriman, kejelasan pemasangan, hingga tanggung jawab atas spesifikasi pekerjaan,” tegasnya.
Baca Juga:
Tren Fasad Rumah 2026: Aquaproof Hadirkan Warna Cokelat 101 yang Hangat
Visi Masa Depan
PT Citra Galvanizing Indonesia saat ini tidak hanya berfokus pada jasa pelapisan seng (galvanis), tetapi mulai mengkaji peluang untuk masuk ke pengembangan produk konstruksi baja sendiri. Langkah ini diambil guna mendukung program pembangunan infrastruktur pemerintah yang terus masif di berbagai wilayah Indonesia.
Arie berharap, estafet ilmu yang ia miliki dapat diteruskan kepada generasi muda agar industri konstruksi nasional semakin mandiri dan berdaya saing global.
“Pengakuan sejati bukanlah popularitas, melainkan hasil kerja yang nyata dan dapat diukur di lapangan,” pungkasnya.
Catatan: Artikel ini telah diterbitkan di majalah Konstruksi Media, Edisi XIX/2026, untuk detail selengkapnya silakan klik tautan berikut: https://online.anyflip.com/nwzpn/devj/mobile/index.html




