Kemenperin Dorong Industri Masuk ‘Era Wajib Dekarbonisasi’ di ESG Symposium 2025
Kemenperin paparkan lima pilar industri hijau untuk menjaga daya saing di era transisi rendah karbon.
Konstruksi Media – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa percepatan dekarbonisasi industri menjadi agenda strategis nasional untuk menjaga daya saing sektor manufaktur Indonesia di tengah tekanan krisis iklim global.
Pernyataan ini disampaikan oleh Muhammad Taufik, S.T., M.T., Sekretaris Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian RI, dalam ESG SYMPOSIUM INDONESIA 2025 yang didukung oleh SCG di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (2/12).
Taufik menyebut bahwa industri tidak lagi memiliki ruang untuk menunda transformasi.
“Dekarbonisasi industri bukan lagi pilihan, tapi keharusan untuk menjalankan industri keberlanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, industri nasional saat ini menghadapi tiga tekanan lingkungan sekaligus, yakni krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi, yang menuntut strategi transisi lebih efisien dan terukur.
“Tantangannya adalah bagaimana tetap menjaga daya saing sekaligus menurunkan emisi,” tambahnya.
Baca Juga:
Hari Bakti PU ke-80: Sutami Awards 2025 Tegaskan Arahan Presiden soal Respons Bencana
Lima Pilar Utama Pengembangan Industri Hijau
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenperin memperkuat arah kebijakan pengembangan industri hijau melalui pendekatan efisiensi produksi.
“Industri hijau kami maknai sebagai proses produksi yang efisien,” jelas Taufik.
Kementerian kemudian menetapkan lima pilar utama dalam pengembangan industri hijau, yaitu:
- Kebijakan dan regulasi yang memberikan arah jelas
- Penerapan ekonomi sirkular di sektor industri
- Dekarbonisasi melalui inovasi teknologi dan efisiensi
- Standardisasi dan infrastruktur mutu
- Akses pembiayaan hijau dan skema insentif

Taufik juga menyoroti pentingnya ekonomi sirkular, termasuk pemanfaatan material daur ulang seperti semen untuk menjadi bahan baku baru.
Dengan penguatan pilar-pilar tersebut, Kemenperin berharap percepatan dekarbonisasi dapat berjalan selaras dengan penguatan daya saing manufaktur Indonesia di pasar global.
Baca Juga:
TMG Hotel Tebet Soft Opening: Modern, Elit, dan Strategis
ESG Symposium Indonesia 2025 merupakan forum tahunan yang mempertemukan pemimpin industri, regulator, dan pelaku bisnis untuk membahas strategi transisi hijau dan penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam konteks industri nasional.
Acara ini menghadirkan sejumlah pembicara lintas sektor, mulai dari perwakilan kementerian, akademisi, hingga pelaku industri, yang memaparkan praktik terbaik, tantangan, dan inovasi dekarbonisasi.
Selain sesi pemaparan, symposium juga dilengkapi panel diskusi yang membahas isu prioritas seperti transisi energi, pembiayaan hijau, pengelolaan limbah industri, dan pemanfaatan teknologi rendah karbon.
Forum ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi untuk memperkuat agenda keberlanjutan industri di Indonesia.



